GELOMBANG KEDUA COVID-19 LANDA EROPA, INDONESIA WASPADA


Jakarta, MS

Teror gelombang kedua Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) kembali mengancam dunia. Lonjakan kasus dikabarkan mulai terjadi di wilayah Eropa. Fenomena ini sekaligus jadi peringatan keras bagi masyarakat Indonesia.

 

Geliat lonjakan kedua gelombang virus corona di Eropa langsung memantik reaksi tegas Presiden Joko Widodo (Jokowi). Himbauan kewaspadaan digaungkan untuk mencegah kondisi serupa terjadi di Indonesia. Masyarakat di semua pelosok daerah diingatkan agar tidak lengah.

"Berkaitan dengan covid-19, saya ingin menekankan sekali lagi hati-hati karena di Eropa sudah muncul gelombang kedua yang naiknya sangat drastis sekali," kata Jokowi saat membuka Sidang Kabinet Paripurna yang disiarkan melalui Youtube Sekretariat Presiden, Senin (2/10).

"Jadi jangan sampai kita teledor, jangan kita kehilangan kewaspadaan sehingga kejadian itu terjadi di negara kita," katanya lagi.

Presiden Jokowi merinci sejumlah negara Eropa yang mengalami lonjakan kedua covid-19. Beberapa di antaranya yaitu Perancis hingga Jerman yang mengalami lonjakan setelah penurunan kasus.

"Kita juga lihat angka-angka, beberapa negara, Prancis melompatnya dari berapa ke berapa. Itali juga melompatnya, Inggris, Jerman, Spanyol ada kenaikan yang sangat drastis, ini agar menjadi perhatian kita semuanya dan kehati-hatian kita semuanya," jelas Jokowi.

Hal ini diungkapkan Jokowi menyusul klaim yang menyebut angka kasus positif covid-19 di Indonesia mulai melandai. Dalam rapat kabinet, Jokowi membeberkan bahwa kasus aktif di Indonesia lebih kecil dari rata rata kasus dunia.

"Kasus aktif covid di Indonesia lebih baik. Lebih rendah dari perkembangan rata rata dunia. Kita memiliki kasus aktif sebesar 13,78 persen," jelas Jokowi.

Adapun rata-rata kasus positif di dunia sebesar 25,22 persen hingga November 2020. "Ini yang terus harus ditekan sehingga angka 13,78 persen ini bisa kita perkecil lagi," tutup dia.

 

KASUS KEMATIAN DI ATAS RATA-RATA DUNIA

Serangan Covid-19 di Indonesia masih terus terjadi. Berdasarkan data kasus per 2 November 2020, jumlah positif corona di Indonesia mencapai 415.402 kasus, dimana 14.044 diantaranya dinyatakan meninggal dunia.

Presiden Jokowi mengakui masih tingginya angka kasus kematian akibat Covid-19. Dia menyebut persentase kasus meninggal di RI berada di angka 3,38 persen. "Yang masih kita di atas rata-rata dunia adalah angka kematian, atau kasus meninggal di Indonesia, itu kita masih di angka 3,38 persen, rata-rata dunia berada di angka 2,5 persen," ujar Jokowi.

Presiden ingin kasus meninggal di Indonesia menjadi perhatian khusus. Dia juga mengingatkan kepada masyarakat untuk berhati-hati terhadap penyakit menular ini.

"Ini yang patut untuk menjadi perhatian kita semuanya. Dan yang berkaitan dengan Covid saya ingin menekankan sekali lagi hati-hati," jelas Jokowi.

Di sisi lain, angka kesembuhan dari Covid-19 di Indonesia juga terbilang tinggi yakni sebesar 341.942 dengan persentase mencapai 82,48 persen. Jokowi mengatakan, persentase angka kesembuhan di Indonesia juga ada di atas rata-rata global, yaitu 72 persen. Dia pun berpesan supaya capaian ini terus diperbaiki.

"Kita sekarang di angka 82,84 persen. Rata-rata dunia 72 persen. Jadi, angka kesembuhan kita juga lebih baik. Ini agar juga diperbaiki lagi," kata Jokowi.

Peran aktif masyarakat untuk membendung penyebaran Corona disebut Presiden sebagai kunci utama yang menentukan keberhasilan negara dalam memerangi pandemi. “Jadi sekali lagi saya minta jangan sampai kita teledor, jangan sampai kehilangan kewaspadaan,” pesan orang nomor satu di Bumi Nusantara ini.

 

CORONA EFFECT, PERTUMBUHAN EKONOMI MELAMBAT

Pandemi Covid yang melanda Indonesia tujuh bulan terakhir telah memukul berbagai sektor vital. Imbasnya, pertumbuhan ekonomi ikut terdampak. Presiden Jokowi memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami minus sekitar 3 persen pada kuartal III 2020. Artinya, Indonesia terperosok ke jurang resesi setelah pada kuartal sebelumnya laju ekonomi minus 5,32 persen.

"Pada kuartal III ini, kita juga mungkin sehari, dua hari, tiga hari akan diumumkan oleh BPS, juga masih berada di angka minus. Perkiraan kami minus 3 persen, naik sedikit," ujar Jokowi.

Selain itu, dia menyatakan realisasi investasi juga masih buruk pada kuartal III 2020. Ia memperkirakan investasi berpotensi minus lebih dari 5 persen. Ia mengaku sudah meminta Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi agar investasi pada kuartal III 2020 bisa minus di bawah 5 persen. Namun, hal itu diakui sulit direalisasikan.

"Belum bisa dikejar. Oleh sebab itu harus dikejar pada kuartal IV 2020, dan kuartal I 2021," kata Jokowi.

Meski negatif, Jokowi mengklaim angkanya tetap lebih baik dari realisasi kuartal II 2020 yang minus mencapai 5,32 persen. Selain itu, ia juga menyatakan bahwa situasi ekonomi Indonesia masih lebih baik dibandingkan dengan negara lain.

"Ini kalau dibandingkan dengan negara lain masih jauh lebih baik," imbuh Jokowi.

Untuk kuartal IV 2020, Jokowi meminta seluruh kementerian untuk menggenjot belanja. Hal itu untuk mendorong permintaan masyarakat, sehingga konsumsi rumah tangga bisa membaik pada akhir tahun. "Kuartal akhir, saya harapan realisasi belanja betul-betul harus berada pada titik maksimal," tegas Jokowi.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani memproyeksi ekonomi kuartal III 2020 terkontraksi atau minus 1 persen sampai minus 2,9 persen. Angkanya lebih tinggi dari perkiraan Jokowi. Ia menjelaskan kontribusi total belanja pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar 18 persen. Menurutnya, realisasi belanja hingga akhir September meningkat pesat dibandingkan kuartal II 2020.

Secara keseluruhan, Sri Mulyani memprediksi ekonomi Indonesia minus hingga akhir tahun. Tepatnya, ekonomi domestik akan minus di kisaran 0,6 persen sampai 1,72 persen.

Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi pada kuartal II 2020 mengalami kontraksi minus 5,32 persen. Angka itu berbanding terbalik dibandingkan kuartal II 2019 sebesar 5,05 persen.

Angka tersebut juga berbanding terbalik dibandingkan ekonomi kuartal I 2020 yang masih tumbuh sebesar 2,97 persen. Sementara, pertumbuhan ekonomi sepanjang semester I 2020 dibanding semester I 2019 juga terkontraksi 1,26 persen.(dtc/cnn/tmp)


Komentar