Efek ODSK Picu Kemenangan PDIP di Pilkada Sulut


Manado, MS

Hasil memuaskan mampu dicapai Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Sulawesi Utara (Sulut) serentak Tahun 2020. Dari 8 pelaksanaan pesta demokrasi Bumi Nyiur Melambai, ada 7 kabupaten kota berhasil dimenangkan. Raihan ini dinilai berkat soliditas partai politik (Parpol) berlambang Moncong Putih tersebut.

Pakar politik Sulut, Ferry Daud Liando menjelaskan, terdapat sejumlah faktor yang membuat PDIP menang. Hal itu karena PDIP adalah satu-satunya Parpol yang paling solid di Sulut untuk saat ini. Struktur kelembagaannya sangat kuat dari tingkat pusat, provinsi, kabupatenbl kota, cabang hingga ranting di tingkat desa.

"Itulah sebabnya hampir semua calon yang diusung PDIP menonjol di sejumlah daerah. Di satu sisi, calon-calon yang diusung PDIP adalah figur-figur yang menambah mengakar dan memiliki nama besar di masyarakat," ungkap akademisi Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado.

Faktor lainnya menurut Liando, para pejabat yang ditugaskan dan ditempatkan di daerah untuk mengisi kekosongan sementara itu, sudah menjalankan visi dengan baik. Kelihatannya para pejabat sementara ini memang berposisi netral. Tetapi kebijakan untuk memaksa Aparatur Sipil Negara (ASN) di daerah yang dipimpinnya itu wajib netral sesungguhnya memberikan keuntungan bagi calon-calon usungan PDIP.

"Di Minsel (Minahasa Selatan-red), Minut (Minahasa Utara-red) dan Boltim (Bolaang Mongondow Timur-red), calon yang merupakan kerabat kepala daerah setempat kalah. Itu karena bupatinya terkonsentrasi pada pemenangan gubernur. Sehingga konsentrasi tidak terfokus. Banyak ASN yang justru tidak memberikan dukungan karena kurang dikontrol dan berpindah pilihan," urainya.

Kalau di Tomohon baginya, kerabat walikota tumbang karena memang calon yang diajukan Golkar itu kalah start dalam melakukan sosialisiasi ke publik. Sementara Golkar tidak solid memobilisasi dukungan. "Tokoh Golkar seperti ibu Syerly Adelyn Sompotan, justru mendukung calon dari PDIP," paparnya.

Selanjutnya di Bitung, petahana tumbang karena ia kerja sendiri. Nasdem sebagai partai pengusung dinilai tidak banyak terlibat dalam penggalangan suara. Apalagi elit-elit Nasdem lain terkonsentrasi juga mendukung kader Nasdem lain yang berkompetisi di tingkat Provinsi.

"Kalau di Manado, kerabat walikota kalah karena terpecahnya konsentrasi ASN dan aparat kelurahan dalam memberikan dukungan antara PAHAM (Paulina Runtuwene-Harley Mangindaan-red) dan kepada pak Mor (Mor Bastiaan-red). Ketika dukungan aparat terbagi merata maka AA (Andrei Angouw-red) dan Icad (Richard Sualang-red) mendapat suara mayoritas," ungkapnya.

Dijelaskannya, seandainya di Pilkada Manado hanya salah satu yang tampil antara PAHAM atau Mor maka kondisinya bisa berbeda. Sebab bisa saja ASN dan aparat akan terkonsentrasi pada satu dukungan. "Namun demikian, ODSK (Olly Dondokambey dan Steven Kandouw-red) juga memberikan pengaruh besar terhadap kemenangan di 6 kabupaten kota. Artinya masyarakat yang memilih PDIP untuk calon gubernur, secara linier memilih juga calon usungan Parpol Moncong Putih di kabupaten kota," jelasnya.

Kemampuan ODSK menjaga harmonisasi selama 5 tahun menjabat menjadi daya tarik pemilih. Masyarakat disebutnya muak dan tidak percaya dengan kepala daerah yang hanya menghabiskan waktu berkonflik dengan wakilnya ketimbang melayani rakyat. "Dan itu banyak dilakonkan di sejumlah kabupaten kota selama ini," urainya. (arfin tompodung)

 


Komentar