SELAMAT JALAN TOKOH PERDAMAIAN


Manado, MS

Nyiur Melambai berduka. Tokoh Nasional, Dr Sinyo Harry Sarundajang atau SHS, tutup usia, Sabtu (13/2) di Rumah Sakit (RS) Siloam Jakarta. Kepergian mantan Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) dua periode ini, meninggalkan duka mendalam bagi publik jazirah utara Pulau Selebes.

Jejak pengabdian SHS membuat masyarakat Sulut berdecak kagum. Sosok birokrat tulen dengan karir pamong yang gemilang, menjadikan suami tercinta dari Deetje Adelin Sarundajang Laoh Tambuwun ini, layak disebut ‘tokoh besar’. SHS merupakan salah satu tokoh krusial yang sukses membawa Sulut menerobos panggung nasional dan internasional. Mengawali karir birokrat dari level bawah, SHS membuktikan kemampuannya menjadi seorang pemimpin besar. Bahkan, hingga akhir hayatnya, beliau masih mengabdi bagi Tanah Aiir sebagai Duta Besar Luar Biasa Berkuasa Penuh di negara Filipina merangkap negara Kepulauan Marshall dan negara Palau.

Informasi yang dirangkum media ini, Gubernur Sulut periode 2005-2010 dan 2010-2015 itu lahir di Kawangkoan, 16 Januari 1945. Dia kuliah dengan mengambil Jurusan Administrasi Negara, Fakultas Sosial dan Politik, Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) di Manado, dan berhasil meraih sarjana muda pada tahun 1968. Untuk meraih gelar sarjana penuh, SHS harus mengikuti pendidikan ke jenjang berikutnya. SHS kuliah di Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta, Jurusan Fakultas Ketatanegaraan dan Ketataniagaan. Ia berhasil menyabet gelar sarjana pada tahun 1970. Dalam perjalanan hidupnya, ia juga meneruskan ke jenjang doktor. Karier SHS dimulai sebagai dosen pada tahun 1971. Saat usianya 26 tahun, ia menjadi dosen luar biasa Fakultas Sospol Unsrat Manado dengan mata kuliah Ilmu Politik dan dosen luar biasa Akademi Pemerintahan Dalam Negeri Manado dengan Mata Kuliah Administrasi Negara.

Karirnya terus meroket. Dia pun sering diberi tugas darurat untuk menyelesaikan persoalan suatu daerah dengan ditunjuk menjadi pejabat sementara (Pj). Itu dimulai sebagai menjadi Pj Sekwilda Minahasa, Pj Karo Bina Pemerintahan Daerah Kantor Gubernur Sulawesi Utara,  PJ Walikotamadya Bitung, Walikotamadya Bitung dalam dua periode.

Tanggung jawab SHS kian besar. Dia dipercayakan menjadi Pj Gubernur Maluku dan Maluku Utara. Di sana, nama SHS kian populis karena disebut sebagai Tokoh Perdamaian. Itu karena SHS mampu menyelasaikan konflik berdarah di wilayah tersebut. Selanjutnya, sekira dua periode ayah dari Ivan SJ Sarundajang, Vanda D Sarundajang, Fabian R Sarundajang,  Eva C Sarundajang dan Shinta Sarundajang, dipercayakan masyarakat Sulut menjadi orang nomor satu di daerah ini.

Sulut kian berjaya. Tangan dingin SHS harus diakui telah membawa kemajuan infrastruktur di Sulut. Misalnya, fasilitas pelebaran jalan hingga jalan tol Manado-Bitung. Semua sektor bergeliat maju di tangan SHS. Dia pun berhasil mengharumkan nama Indonesia di dunia internasional saat melaksakan iven World Ocean Conference (WOC) dan CTI Summit di Sulut pada tahun 2009. Sejumlah pemimpin dunia hadir di daerah berjulukan Bibir Pacifik.

Rencananya, jenazah SHS akan dibawa dari Bandara Soekarno Hatta menuju Bandara Samratulangi Manado pada Senin (15/2) sekira jam 11.00. Tiba di Bandara Samratulangi Manado dengan pengawalan TNI akan disemayamkan sejenak di VIP Bandara Pemda. Selanjutnya, jam 16.00 menuju rumah duka Keluarga Sarundajang-Laoh Tambuwun di Jalan Temboan Nomor 69, Kelurahan Winangun II Kecamatan Malalayang.

“Kami bersyukur kepada Bapa Yahweh di dalam nama Tuhan Yeshua Hamasiakh yang sudah menghadirkan di dunia ini 16 Jan 1945, Orang Tua kami! Dan jam 00:31 Wib 13 Feb 2021, memanggil pulang kembali kepada Bapa di Surga. Terpujilah nama Tuhan! Yerima kasih Tuhan, terima kasih Papa, We love You but GOD loves You More!,” tulis Ivan Sarundajang, pada akun facebooknya, Minggu (14/2).

 

SEPEKAN, SULUT PASANG BENDERA SETENGAH TIANG

Penghargaan bagi Duta Besar RI untuk Filipina merangkap Kepulauan Marshall dan Palau, Sinyo Harry Sarundajang, dibuktikan pemerintah dan masyarakat Sulut. Bentuk penghormatan terakhir, masyarakat akan memasang bendera setengah tiang sebagai tanda berkabung selama tujuh hari mulai Sabtu (13/2), hingga selesainya pemakaman pada, Jumat (19/2).

Hal itu merujuk Surat Edaran (SE) Nomor : 001.2/21.738/Sekr yang ditandatangani Pelaksana Harian (Plh) Gubernur Sulut Edwin Silangen tertanggal 13 Februari 2021 dan ditujukan kepada bupati dan walikota se-Sulut. “Ini sebagai bentuk penghormatan serta tanda berkabung atas meninggalnya Duta Besar Indonesia untuk Filipina sekaligus Gubernur Sulawesi Utara periode 2005-2010 dan 2010-2015, Almarhum Bapak Sinyo Harry Sarundajang,” ujar Plh Gubernur Sulut dalam SE tersebut.

“Maka dimintakan kepada seluruh pemerintah di kabupaten kota untuk dapat mengibarkan bendera merah putih setengah tiang di depan instansi atau kantor maupun rumah tinggal di wilayah masing-masing,” lanjut Silangen. Adapun SE ini tembusannya turut disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian.

Sementara itu, di Minahasa Tenggara (Mitra), instruksi pemasangan bendera di depan rumah warga disampaikan langsung Bupati James Sumendap. “Mulai hari ini (Sabtu, 13/2, red) sampai selesai pemakaman pemakaman Almarhum Gubernur Sulut SHS, seluruh wilayah Mitra memasang bendera merah putih setengah tiang,” ungkap bupati, via messenger WhatsApp.

TOKOH PEMEKARAN BOLMONG

Jasa SHS bagi semua daerah di Sulut sangat besar. Pengabdian membangun tanah kelahirannya, patut diteladani. Dia merupakan sosok pemimpin panutan dan teladan.

Itu diakui Walikota Kotamobagu, Tatong Bara. “Atas nama pribadi, keluarga, jajaran Pemerintah Kota dan seluruh masyarakat Kota Kotamobagu, saya menyampaikan ungkapan duka yang mendalam atas meninggalnya salah satu tokoh nasional dan putra terbaik Sulawesi Utara, Bapak Dr. Drs. Sinyo Harry Sarundajang,” ucap Tatong, Sabtu (13/2).

Almarhum, bagi dia, merupakan sosok pemimpin yang menjadi panutan, teladan dan begitu menginspirasi mereka para kepala daerah di Sulut dalam menjalankan pemerintahan dan pembangunan di daerah masing-masing. “Jejak kepemimpinan Almarhum telah begitu banyak memberikan kontribusi besar bagi Sulawesi Utara, termasuk sumbagsihnya untuk negeri ini. Berbagai jabatan prestisius Almarhum mulai dari Sekretaris Daerah Minahasa, Walikota Bitung, Pejabat Gubernur Maluku, Pejabat Gubernur Maluku Utara, Irjen Depdagri, Pejabat Walikota Manado, Gubernur Sulawesi Utara 2 periode (2005-2015), dan terakhir dilantik Presiden Jokowi sebagai Duta Besar Indonesia untuk Philipina merangkap Kepulauan Marshall dan Palau, telah mencatatkan sejarah tersendiri yang terus akan dikenang oleh negeri ini serta seluruh masyarakat Sulawesi Utara,” jelasnya.

Tidak hanya itu, di era kepemimpinan Sarundajang, Bolaang Mongondow Raya berhasil dimekarkan. “Satu lagi kontribusi besar Almarhum khususnya bagi seluruh masyarakat Bolaang Mongondow Raya adalah di era kepemimpinan Almarhum lah, Bolmong Raya dimekarkan hingga menjadi 4 kabupaten dan 1 kota seperti saat ini,” ungkapnya.

Atas jasanya tersebut, Tatong mengucapkan terima kasih kepada Sarundajang. “Terima kasih Pak Sarundajang, syukur mo’anto, syukur mobarong atas segala jasa, sumbangsih dan kontribusi besar bagi kami masyarakat Bolmong Raya. Semua kebaikan, dedikasi dan pengabdian untuk Bolmong Raya akan menjadi sejarah indah yang akan selalu kami kenang selamanya. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa akan senantiasa membalas semua kebaikan, semua jasa, dedikasi serta pengabdian Almarhum selama hidup. Tuhan Memberkati,” tutupnya.

GEDUNG CENGKIH BERDUKA

Ungkapan dukacita bagi SHS mengalir deras. Memiliki jasa yang besar bagi masyarakat Nyiur Melambai, berpulangnya mantan Gubernur Sulut ini memunculkan reaksi beragam dari berbagai elemen masyarakat.

Misalnya dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulut. Wakil Ketua Victor Mailangkay mengatakan, SHS adalah seorang putra bangsa yang berasal dari Sulut. Baginya SHS tokoh yang paripurna, birokrat handal bahkan politsi yang sudah teruji. "Kalau ada ungkapan mengatakan setiap orang ada masanya dalam hal jabatan, tapi kalau SHS dari masa ke masa karena sampai mati dia masih menjabat (Duta Besar Indonesia Untuk Filipina, red)," ungkap politisi Partai Nasdem ini.

Wakil rakyat daerah pemilihan Kota Manado ini mengungkapkan, memang Sulut kehilangan SHS. Meski demikian karya-karya tetap akan ada. "Kita kehilangan tapi nilai-nilai yang dia tinggalkan itu tetap hidup dalam alam pikiran kita," tuturnya.

Sementara, Anggota Komisi I DPRD Sulut, Fabian Kaloh menyampaikan kisahnya sewaktu menjadi birokrat di Kota Bitung. Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ini menceritakan bagaimana sosok mantan Gubernur Sulut tersebut dalam memimpin.

"Saya jadi Camat saat 12.000 orang pengungsi Maluku tiba di Pelabuhan Bitung dan ditempatkan di beberapa lokasi camp pengungsian termasuk Kodim dan Secata B Wangurer," jelas Kaloh.

Disampaikannya, kala itu memerintahkan agar dirinya ‘stand by’ menunggu 1x24 jam di pelabuhan Bitung. Hal itu karena kedatangan kapal yang akan membawa pengungsi tersebut tidaklah pasti. "Camat karena kapal pengungsi tidak pasti jam datangnya, Camat tunggu 1X24 jam di pelabuhan dan beberapa titik lain tempat kapal sandar, jangan tidur, karena tidak boleh ada 1 pun pengungsi yang tercecer, semua harus bawa di camp," urai wakil rakyat daerah pemilihan Minahasa Utara dan Kota Bitung ini.

Hebatnya SHS, menurut Kaloh, karena semua camp pengungsi didatanginya. Upaya itu dilakukan untuk menenangkan hati pengungsi yang lagi sedih, takut dan cemas. "Saya ingat kata-kata beliau, ‘kalian aman di Kota Bitung, kami akan menjaga dan urus kalian semua, tapi juga jangan bawa emosi kalian dari sana ke Kota Bitung ini’," jelas Fabian mengutip kalimat yang diungkapkan SHS.

Baginya, SHS sangat serius dan tulus mengurus para pengungsi. Apalagi presiden saat itu Megawati Soekarnoputri mempercayakan SHS sebagai Pj Maluku dan Maluku Utara. Oleh karena itu, sebagai mantan bawahan dari almarhum SHS dirinya dangat merasa kehilangan. "Sangat serius dan tulus beliau mengurus Pengungsi dan mungkin karna itu juga beliau dipercayakan Presiden saat itu Ibu Megawati Soekarnoputri jadi Pj Maluku dan Maluku Utara tahun 2002 lalu, makanya kita sebagai mantan anak buahnya merasa kehilangan mantan Pimpinan yang handal dan Hebat," tutupnya.

Anggota Komisi IV DPRD Sulut, Melky Pangemanan menyampaikan, kepergian SHS bukan hanya warga Sulut yang merasa kehilangan tapi seluruh Indonesia. Beliau aset bangsa, tokoh nasional yang disegani karena pemikiran dan gagasannya membangun daerah dan bangsa.

"Tokoh pluralis, cerdas, kharismatik dan sosok orator ulung. Inspirasi bagi generasi muda Sulawesi Utara dan Indonesia. Selamat jalan sang Maestro Politik Indonesia," tutur Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Solidaritas Indonesia Sulut ini.(sonny dinar/arfin tompodung)

 

 

JABATAN

Kasubdit Kampol pada Direktorat Sospol Dati I Sulut, 1974

Kepala Biro Pemerintahan Setda Provinsi Sulawesi Utara, 1977

Pj. Sekretaris Wilayah Daerah Kabupaten Minahasa, 1978

Kepala Biro Penyelenggaran Pemilu Provinsi Sulawesi Utara, 1981

Pj. Kepala Biro Pemerintahan Sekretariat Daerah Provinsi Sulawesi Utara, 1981

Sekretaris Daerah Kabupaten Minahasa, 1983

Wali Kota Kota Administratif Bitung, 1986

Pj. Wali Kotamadya Bitung, 1990

Wali Kota Bitung, 1991 - 2000

Pj. Gubernur Maluku, 2002 - 2003

Staf Ahli Menteri Dalam Negeri Bidang Strategis, 2000

Ketua Harian KAPET, 2000

Inspektur Jenderal Departemen Dalam Negeri, 2001 - 2005

Pj. Gubernur Maluku Utara, 2002

Gubernur Sulawesi Utara, 2005 - 2015

Pj. Wali Kota Manado, 2009 - 2010

 

PENDIDIKAN

1957 SD Ricosuk Sesdiet Sorong

1960 SMP Tomohon

1964 SMA Kawangkoan

1968 Sarjana Muda Administrasi Negara FISIP UNSRAT

1970 Sarjana Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

1972 S2 Administrasi Prancis

1986 SESPANAS Angkatan V

2000 Lemhanas KSA VIII

2011 Doktor ilmu politik UGM[3]

2012 Doktor honoris causa bidang perdamaian UIN Maulana Malik Ibrahim Malang[4]

 


Komentar


Sponsors

Daerah

Sponsors

Mail Hosting