SURVEI CAPRES, PUTRA LANGOWAN DI ATAS ANGIN


Jakarta, MS

Kontestasi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 mulai menyita perhatian. Peta kekuatan sederet figur calon presiden (capres) pun mulai ditakar. Teranyar, nama Menteri Pertahanan RI, Prabowo Subianto, melejit. Survei terbaru yang dirilis Lembaga Survei Indonesia (LSI) menempatkan Ketua Umum Partai Gerindra itu di deretan paling atas.

Prabowo diketahui merupakan capres di Pemilu 2019 lalu namun belum berhasil mendapatkan suara terbanyak. Putra Minahasa berdarah Langowan ini kemudian ditarik masuk ke Kabinet Indonesia Maju bentukan Joko Widodo-Ma’ruf Amin sebagai Menteri Pertahanan RI. Jabatan itu masih diemban hingga sekarang ini.

Berdasarkan survei LSI, elektabilitas Prabowo jauh di atas Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, hingga Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Dalam simulasi semi terbuka, elektabilitas Prabowo mencapai 22,5 persen. Di posisi kedua, ada Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dengan tingkat keterpilihan 10,6 persen.

"Pak Prabowo yang unggul 22,5 persen. Menyusul kemudian Ganjar dan Anies, boleh kita sebut sama posisinya," kata Direktur Eksekutif LSI Djayadi Hanan dalam jumpa pers daring, Senin (22/2).

Di bawah Ganjar, Anies menempel tipis dengan 10,2 persen. Mantan rival Anies di Pilkada DKI Jakarta 2017, Ahok di tempat keempat dengan elektabilitas 7,2 persen. Pada simulasi 14 nama, Prabowo masih perkasa dengan tingkat keterpilihan 25,3 persen. Lalu ada Ganjar Pranowo dengan 14,7 persen dan Anies Baswedan dengan 13,1 persen.

Saat pilihan dikerucutkan jadi sepuluh nama, Prabowo pun tetap tak tersentuh. Ketua Umum Partai Gerindra itu memiliki elektabilitas hingga 26 persen. Di bawah Prabowo, Ganjar dan Anies tetap bersaing ketat. Elektabilitas Ganjar sebesar 15,4 persen, sedangkan elektabilitas Anies 13,3 persen.

"Nama-nama ini memang untuk sementara urutannya belum berubah. Nomor satu Prabowo, diikuti Ganjar, Anies, Sandi, Ridwan Kamil," ujarnya.

Survei LSI kali ini melibatkan 1.200 orang responden yang dipilih lewat metode multistage random sampling. Survei dilakukan pada 25-31 Januari 2021. Penelitian ini menerapkan margin of error kurang lebih 2,9 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.

Sebelumnya, survei persepsi publik yang dirilis IndexPolitica belum lama ini juga menempatkan Prabowo di posisi teratas dengan mendapatkan angka 14,9% dari 13 figur yang masuk daftar survei. Direktur Eksekutif IndexPolitica, Denny Charter mengatakan survei capres ini dilakukan dengan memberi 2 pertanyaan. Pertanyaan pertama responden tidak diberi pilihan nama dan langsung menjawab spontan atau top of mind presiden yang diinginkan.

"Top of mind itu kalau kita tanya mereka jawab secara spontan, jika pemilihan presiden dilakukan hari ini, maka siapa capres yang dipilih. Tertinggi itu Prabowo," ujar Direktur Eksekutif IndexPolitica, Denny Charter, dalam webinar, belum lama ini.

 

STRATEGI PRABOWO

Sosok Prabowo belakangan memang kerap jadi sorotan. Sikap Menteri Pertahanan RI yang terkesan dingin dalam menyikapi berbagai peristiwa yang terjadi di Tanah Air belakangan dinilai sebagai salah satu strategi politik untuk memuluskan langkah menuju Pilpres 2024. Misalnya belum lama ini, Prabowo memilih tetap diam meski dua kali laut NKRI dijebol China.

Pengamat politik Maksimus Ramses Lalongkoe menilai sikap Prabowo itu karena memiliki maksud tertentu yakni mengincar massa dukungan Joko Widodo (Jokowi). Menurutnya, Prabowo berpotensi kuat kembali diusung di Pilpres 2024 mendatang. Bahkan, Prabowo memiliki potensi kuat untuk menang jika mampu menarik basis pendukung Jokowi.

"Justru PS (Prabowo Subianto) ini yang berpotensi kuat di Pilpres 2024," ujarnya.

Dia pun memaparkan analisis terkait peluang Prabowo Subianto menang di Pilpres 2024 dengan merangkul pendukung Jokowi.  "Sekarang Prabowo lebih banyak mengagung-agungkan Jokowi, tanpa ada kritikan lagi. Saya kira ini sinyal bahwa Prabowo sedang menjadi baik, basis dukungan Jokowi," katanya.

Lebih lanjut, ia menilai Prabowo kemungkinan belum tampak melakukan gebrakan lantaran pihaknya masih menunggu waktu yang tepat. "Saya kira dia menunggu waktu yang tepat sebab jangan sampai ia dinilai presiden menggunakan panggung menteri untuk tujuan pilpres," katanya lagi.

Ia pun melihat sangat tidak efektif bagi Prabowo jika dicurigai bekerja sebagai menteri dalam suasana kepentingan politik. "Makanya, Prabowo Subianto sepertinya sedang menjaga betul kondisi ini dan menjaga basis dukungan Jokowi juga," tukasnya.

Di mata publik, kinerja Prabowo sebagai Menteri Pertahanan RI pun mendapatkan respon yang baik. Itu menyusul hasil hasil survei LSI yang juga mencatat kepuasan terhadap Prabowo menempati posisi teratas dibanding anggota kabinet yang lain. Dari survei yang digelar 25-31 Januari 2021 ini, sebanyak 75 persen puas terhadap kinerja Ketua Umum Gerindra dengan rincian 13 persen sangat puas dan 62 persen puas.

"Yang tingkat kepuasannya paling tinggi terhadap Menteri Pertahanan, disusul Sandiaga Uno, Sri Mulyani, Tri Rismaharini, Pak Erick Thohir, Pak Mahfud, dan seterusnya," kata Direktur Eksekutif LSI Djayadi Hanan dalam rilis hasil survei, Senin (22/2).

 

DISUPPORT PDIP, GANJAR KANS JADI SAINGAN

Selain Prabowo, sederet figur capres juga mulai menunjukkan taringnya merebut simpati publik. Salah satu yang diprediksi bakal menjadi saingan berat Prabowo yaitu Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Menurut survei beberapa lembaga, elektabilitas Ganjar melesat mengungguli tokoh lainnya.

Juli 2020, Survei Indikator Politik Indonesia menunjukkan dua tokoh yang elektabilitasnya naik signifikan. Salah satunya Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Pada Februari 2020 berada di 9,1 persen, Mei 2020 naik menjadi 11,8 persen.

Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) akhir 2020 merilis elektabilitas Ganjar Pranowo 15,7 persen, sementara Prabowo Subianto 14,9 persen. Terbaru Januari 2021 yang dikeluarkan Lembaga Survei Indonesia (LSI), elektabilitas Ganjar ada di angka 10,6 persen.

Tak heran, sosok Ganjar kini mulai dilirik sederet parpol. Salah satunya PDIP. Ketua DPP PDIP Djarot Saiful Hidayat mengatakan, partainya tidak menutup peluang Ganjar sebagai calon presiden 2024. Semua tergantung upaya Ganjar meningkatkan elektabilitasnya hingga menjelang Pemilu.

"Tergantung dari pak Ganjar juga bagaimana dia bisa meningkatkan elektabilitasnya dan teman-teman di PDIP, maupun dari luar kita juga bisa," kata Djarot dalam rilis survei LSI, Senin (22/2).

Namun Djarot mengakui PDIP juga memiliki kader lain yang berpeluang sebagai calon presiden. "Artinya 2024 masih terbuka bagi siapa pun juga. Ada yang mengatakan apakah Pak Ganjar, pasti tertutup peluangnya? Belum tentu juga," sambungnya.

Djarot mengatakan, untuk penentuan calon presiden dari PDIP tidak dilakukan dalam waktu dekat. Apalagi agenda Pemilu Presiden masih sangat jauh. PDIP menunggu timing tepat. "Biasanya, untuk penentuan capres itu tidak bisa dilakukan di awal-awal seperti ini. Tapi nanti pada waktu yang tepat, timing yang tepat, posisi yang baik itu baru disampaikan," ujar Djarot.

Pada survei LSI Januari 2021, Ganjar menempati posisi kedua elektabilitas calon presiden. Pertama ada Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di angka 22,5 persen, Ganjar mengikuti dengan angka 10,6 persen, serta Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan 10,2 persen dalam simulasi semi terbuka.

 

MOELDOKO KUDA HITAM

Meski tak berada di deretan figur yang dirilis lembaga survei, nama Moeldoko juga sempat mencuat. Mantan Panglima TNI ini juga sempat terseret dalam pusaran isu capres 2024. Direktur Riset Indonesian Presidential Studies (IPS) Arman Salam menilai, isu ‘kudeta’ di tubuh Partai Demokrat seolah ‘menghidupkan’ popularitas dan elektabilitas Moeldoko. Dia bahkan dinilai bisa jadi kuda hitam di Pilpres 2024 .

Arman menyebut, meski mengelak, Moeldoko sempat dianggap berperan aktif dalam isu pengambilalihan kepemimpinan PD dari ‘tangan’ Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). "Aneka langkah politik yang dilakukan Moeldoko memang cukup strategis mulai dari pengambilan kepengurusan HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia) sampai komunikasi politik dengan ‘bocah nakal’ pengurus Demokrat," ujar Arman.

Terlepas dari benar tidaknya tudingan AHY terkait isu kudeta, menurut Arman, secara langkah dalam upaya pemenuhan syarat maju sebagai calon presiden (capres) relatif terpenuhi. Setelah isu ini, boleh saja Moeldoko melakukan komunikasi dengan semua partai agar bisa dijadikan perahu dalam kontestasi Pilpres 2024 .

Namun ia meyakini, dengan cara sosialisasi yang benar dan mampu menyajikan strategi politik yang tepat, bisa saja Moeldoko menjadi ‘kuda hitam’, mengingat Pilpres 2024 berada pada zona bebas atau tanah tak bertuan.

Dia menuturkan, dalam survei nasional lembaganya terkait calon presiden akhir tahun 2020, nama Moeldoko dianggap belum bersinar sebagai ‘primadona’ capres maupun cawapres. Menurut dia, tingkat elektabilitas Moeldoko masih kecil, tertinggal jauh dari Prabowo Subianto, Ganjar Pranowo, Anies Baswedan, atau bahkan dengan AHY.

"Artinya, incumbent (Jokowi) sudah tidak bisa lagi maju berdasarkan ketentuan undang undang yang berlaku sekarang. Siapa calon presiden yang efektif melakukan sosialisasi maka dialah yang jadi pemenang," pungkasnya.(snd/dtc)

 


Komentar


Sponsors

Daerah

Sponsors