Dua Guide Asal Manado Ukir Sejarah

‘Kawal’ WNA Taklukan Carstensz Pyramid


Laporan : Devy KUMAAT

SEJARAH kembali tercipta di bidang terbang layang (gliding). Prestasi gemilang itu ditorehkan dua penerbang profesional asal Afrika Selatan, yakni Pierre Carter dan Nico Hickley. Kegigihan Pierre Cs ini membuat ‘kemegahan’ Puncak Jaya atau Carstensz Pyramid di Provinsi Papua  berhasil ditaklukan, Selasa (11/12) lalu.

 

Menariknya, kesuksesan mereka mendarat di puncak yang menjadi bagian dari Barisan Sudirman di ujung timur Nusantara ini , ditunjang dua guide hebat asal Manado. Adalah Lucky Kolompoy SE dan Muhammad Hatta SE.

 

Itu diakui pimpinan agen perjalanan Cartensz Expedition yang berkedudukan di Manado, Denny Engka SE. Menurut dia, Pierre dan Nico terbang dari Pos Teras Besar dengan ketinggian gunung 4600 meter di atas permukaan laut (mdpl). Keduanya mendarat di Lembah Kuning pada ketinggian 4300 mdpl.

 

Untuk diketahui, gunung yang puncaknya dibungkus lapisan es abadi sekaligus satu-satunya di Indonesia itu, memiliki ketinggian 4884 mdpl dan masuk dalam 7 summits 7 flights di seluruh benua.

 

"Sejak lama rencana ini dirancang keduanya dan menghubungi pihak kami. Kemudian setelah beres urusan izin, keduanya diarahkan pemandu kami, yakni Lucky Kolompoy dan Muhammad Hatta SE, keduanya dari Manado," terang Engka ketika dihubungi, Jumat (15/12) pekan lalu.

 

 

 

Kepada wartawan, Engka pun sedikit menjelaskan kondisi cuaca saat terbang layang yang dilakukan Pierre dan Nico. Saat itu, cuacanya cukup cerah. Meski begitu, kedua penerbang harus beberapa kali turun dan naik puncak Cartenz sebagai bentuk adaptasinya. “Salah satu faktor kesulitan saat akan mendarat, karena banyaknya batu dan pasir. Termasuk, tajamnya bebatuan lereng gunung tersebut,” ungkap dia.

 

Bahkan, Engka menjelaskan, salah satu penerbang harus memeriksa seluruh tali berulang-ulang agar tak putus saat terbang. “Pengamatan tim kami sebanyak enam kali diperiksa. Saat merasa tepat untuk mengudara, keputusan diambil dan mendarat tanpa kendala cuaca yang kala itu lagi baik,” tuturnya.

 

Pendaratan yang mulus itu merupakan usaha kedua karena pada tahun 2017 lalu, mereka sempat mencoba mengudara namun gagal. "Dan ini jadi penerbangan pertama dengan paralayang dari  Gunung Cartenz Pyramide di atas ketinggian ribuan meter," imbuh Engka.

 

“Sudah pernah dicoba oleh penerbang lain tapi gagal akibat cuaca dan faktor-faktor non teknis lainnya,” sambung dia.

 

Ia memastikan kedua penerbang ini sangat profesional. Apalagi memiliki jam terbang yang panjang sebab sudah sekira 30 tahun bergelut di olahraga ini. “Jadi, detail penerbangan sangat rinci dipelajari. Dan kami merasa beruntung ambil bagian dari pengukiran sejarah itu," ungkapnya.

 

Seperti diketahui, gunung-gunung yang telah diterbangi keduanya meliputi Gunung Kilimanjaro (Benua Afrika), Gunung Aconcagua (Benua Amerika), Gunung Elbrus (Benua Eropa).

 

Kabar tersebut ditanggapi sejumlah masyarakat Sulawesi Utara (Sulut). Pencinta olahraga terbang layang, Lary Supit SPd mengakui, keberanian dua penerbang tersebut. Meski begitu, Lary beranggapan, keberhasilan Pierre Carter dan Nico Hickley ini tidak lepas dari guide yang dibawa. “Pastinya, mereka banyak membantu kedua penerbang ini. Jadi, kami pun sebagai penghobi olahraga terbang layang sangat kagum dengan kedua guide dari Manado itu,” ungkap Lary, Minggu (16/12).(*)


Komentar