Foto: Gunung Karengetang
KARANGETANG MENGAMUK
-Potensi Keluarkan Awan Panas
-Ratusan Warga Dievakuasi
Siau, MS
Siau siaga. Aktivitas Gunung Karangetang kian meninggi. Salah satu gunung berapi aktif di Sulawesi Utara (Sulut) itu, terus mengeluarkan lava. Parahnya lagi, guguran lahar sudah mendekati pemukiman warga. Sejumlah akses jalan dan jembatan pembatas ikut tertimbun lava. Semburan asap juga masih menyembul.
Peringatan keras pun didendangkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Pos Pemantau Gunung Api Karangetang. Guguran lava panas dinilai berpotensi mengeluarkan awan panas. Evakuasi dinilai sudah perlu dilakukan. Khususnya bagi warga yang berdekatan guguran lava yang telah mendekati pemukiman. Itu untuk mencegah terjadinya luncuran lava yang lebih besar.
"Guguran Lava yang terjadi saat ini, bukan lagi di kawah dua, tapi sudah dari lubang besar di badan gunung. Itulah kenapa luncurannya, sudah melewati jembatan di kali Malebuhe, yang sangat dekat dengan pemukiman," ungkap Didi Wahyudi, petugas Pos Pemantau Gunung Api Karangetang, kepada harian ini, Selasa (5/2) kemarin.
“Jika melihat kondisi luncuran lava tersebut, tindakan evakuasi warga sudah perlu untuk dilakukan. Sebab itu (Luncuran lava, red) sangat berpotensi terjadi awan panas,” timpalnya.
Sementara itu, Kepala pos pengamatan Gunung Api Karangetang, Yudia Tatipang, menyebut hingga Selasa sore kemarin, Gunung Karangetang masih mengeluarkan asap kawah bertekanan sedang hingga kuat berwarna putih dengan intensitas tebal dan tinggi 50 meter di atas puncak kawah.
"Kalau dari kawah utama terlihat asap putih kebiruan tebal tekanan gas sedang sampai kuat sekitar 50 meter," jelasnya. "Ada pula asap kebiruan yang condong dan menyebar di lereng bagian selatan tenggara tubuh gunung api," tambahnya.
Di kawah dua juga terlihat asap putih tipis sampai sedang tekanan gas lemah sampai sedang tinggi sekitar 50-100 meter. "Suara gemuruh lemah sampai agak kuat sering terdengar dan disertai hembusan asap putih kelabu tinggi sekitar 300 meter," jelas dia.
Secara kegempaan lanjut Yudia, guguran terjadi 34 kali dengan amplitudo 3-12 mm dengan durasi 30-55 detik. Sedangkan hembusan terjadi 21 kali dengan amplitudo 6-54 mm, durasi 20-65 detik. Sementara Vulkanik dangkal terjadi 2 kali, dengan amplitudo 10-20 mm, berdurasi 5 detik. “Tektonik jauh sekali dengan amplitudo 45 mm, S-P 26 detik, berdurasi 75 detik,” katanya.
Tremor masih juga terekam dengan amplitudo 0.25 mm (dominan 0.25 mm). "Yang pasti, status gunung hingga kini masih siaga atau level III," imbuhnya.
Warga dilarang untuk melakukan pendakian dan membatasi aktivitas dalam radius 2,5 kilometer dari kawah dua di bagian utara, serta perluasan ke bagian selatan, tenggara, barat dan barat daya sejauh 3 kilometer. Selain itu, masyarakat yang tinggal di sekitar bentaran sungai yang berhulu di puncak Karangetang diminta tetap waspada. Terutama di musim penghujan ini. “Itu untuk mencegah terjadinya banjir bandang dan lahar,” imbau Yudia.
Masyarakat juga diharapkan menyiapkan masker penutup hidung dan mulut. “Itu untuk mengantisipasi bila terjadi hujan abu. Karena potensinya (hujan abu, red) ada,” kuncinya.
PEMDA BEREAKSI, 111 WARGA DIUNGSIKAN
Ancaman guguran lava yang kian mendekati pemukiman warga, direspon pemerintah Sitaro. Proses evakuasi telah mulai dilakukan. Utamanya bagi wargaDesa Batubulan, Kecamatan Siau Barat Utara (Sibarut).
Awalnya, baru 4 keluarga dievakuasi pada Sabtu (2/2) lalu. Masing-masing keluarga Johan-Kamboti, keluarga Kalensang-Manutur, keluarga Mudani-Gansa dan keluarga Katilahe-Lahinda. Itu menyusul keempat keluarga tersebut, tinggal di dekat kali yang dilalui guguran lava panas.
Namun, hingga Selasa (5/2) kemarin, tercatat sudah ada 111 wargaDesa Batubulan yang dievakuasi. Karena guguran lava sudah semakin mendekati pemukiman warga.
Hal itu dibenarkan,Camat Sibarut, Cathrin Lukas. Ia menyebutkan dari 111 warga yang dievakuasi, 57 diantaranya ditampung di Kantor Desa Batubulan, dan 43 warga lainnya berada di Gereja GMSIT Nazareth Niambangen."Yang 11 warga lainnya mengungsi di rumah keluarga mereka di luar wilayah Kecamatan Sibarut,” kata Lukas.
Dijelaskan Lukas, ke 57 warga yang dievakuasi di Kantor Desa Batubulan adalah warga yang bermukim di wilayah yang berbatasan dengan Kali Malebuhe, yang menjadi lokasi luncuran lava. “Sedangkan, warga yang tinggal di wilayah dekat dengan Kali Batuare, itu diungsikan ke gereja. Proses evakuasi dilakukan oleh BPBD, dan dibantu aparat TNI/Polri,” terangnya.
Disinggung soal ketersediaan logistik bagi warga yang mengungsi, Lukas mengaku masih memadai. “Sampai saat ini, kebutuhan warga masih tercukupi, terutama warga yang dievakuasi. Sebab ada bayi satu orang dan tiga orang anak-anak,” ucapnya kembali.
Bantuan logistik disebut berasal dari pemda yang disalurkan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Sosial dan Palang Merah Indonesia (PMI) Sitaro. “Bantuan yang telah disalurkan seperti bahan makanan cepat saji, beras, mie instan, selimut, tikar, family kid serta kebutuhan pokok lainnya.,” tandasnya.
Hal itu diamini Plt Kepala BPBD Kabupaten Sitaro, Bob Ch Wuaten ST. “Logistik sudah didistribusikan di lokasi-lokasi pengungsian,” katanya.
Bantuan yang diberikan diperuntukan dalam beberapa hari. Untuk itu pemerintah daerah akan terus memonitoring perkembangan kondisi warga yang ada di pengungsian. “Koordinasi dengan pihak pemerintah kecamatan terus jalan, terlebih terkait kebutuhan bahan makanan warga. Itu akan kita siapkan,” ujar Wuaten.
Ia pun telah meminta masyarakat untuk menghentikan sementara seluruh aktivitas di dekat Kali Malebuhe dan Kali Batuare. "Sebab saat ini Gunung Karangetang masih dalam status Siaga. Kami akan terus memantau perkembangan disana sambil mendata ulang identitas warga dengan dibantu aparat TNI maupun Polri yang tetap standby dilokasi,” pungkasnya.
POLSEK DAN KORAMIL PRO AKTIF, BUPATI APRESIASI
Pasca Gunung Karangetang berstatus Siaga Level III, aparat TNI/Polri, langsung bergerak. Aparat Polsek Siau Barat dan Koramil 02 Siau, mengamankan kawasan yang telah ditetapkan zona berbahaya.
Warga yang hendak ke Desa Batubulan dicegat masuk. Mengingat desa itu, merupakan wilayah yang paling terdampak, karena guguran lava panas sudah mendekati area pemukinan masyarakat.
"Jalur ini sudah dilarang untuk dilewati warga, sebab guguran lava sudah dekat dengan jalan dan jembatan," jelas Kompol Johanis Sasebohe, Kapolsek Rural Siau Barat.
“Yang paling berbahaya adalah ancaman awan panas yang menyertai guguran lava t, serta bebatuan panas yang bisa menerpa siapa saja,” sambungnya.
Tak hanya itu, TNI/Polri juga ikut melakukan evakuasi warga Batubulan, baik yang berada di rumah maupun di kebun. "Kami pastikan, warga yang masih di rumah atau kebun kami ungsikan bersama ke tempat yang aman," jelasnya.
“Ada 29 personel untuk berjaga di sana. Kita bersama TNI dan dibantu Polsek Siau Timur,” timpalnya.
Senada diungkap Danramil 02 Siau Kapten Inf Pitter Masina. Menurutnya, sejak mendapatkan informasi terkait status Gunung Karengetang, ia bersama personelnya langsung turun ke lokasi untuk membantu melakukan evakuasi warga. "Kami dengan kepolisian dan BPBD kerjasama melakukan evakuasi. Kita tidak bisa kerja sendiri-sendiri, tapi harus bersama," tandasnya. Sedikitnya 13 anggota TNI yang diterjunkan untuk ikut melakukan pengamanan serta evakuasi bersama dengan kepolisian.
Sementara itu, Bupati Sitaro, Evangelian Sasingen SE ikut memantau langsung perkembangan dampak dari letusan Gunung Karangeteng, pada Senin (4/2). Awalnya, Sasingen mengunjungi lokasi yang dijaga pihak Polsek Siau Barat dan Koramil 02 Siau, tepatnya di Kampung Kawahang.
Disitu Bupati berbincang dengan petugas Yudia Tatipang, pemantau Gunung Karangetang, Dandim 1301 Sangihe Letkol Inf Parenrengi, dan Kapolsek Siau Barat Kompol Johanis Sasebohe.
Kala itu Bupati berkeinginan untuk melihat langsung aliran lava yang berada di wilayah Batubulan, namun dicegah oleh aparat, mengingat kondisi yang sudah membahayakan.
Tak lupa, Bupati mengapresiasi petugas TNI dan Polri yang telah membantu proses evakuasi warga serta tetap siap siaga melakukan penjagaan dan pengawasan di lokasi bencana.
"Saya berterima kasih atas kesiap-siagaan dari TNI, Polri, dan Basarnas yang bekerja sama dengan pemerintah Sitaro untuk mengevakuasi masyarakat," terang Bupati.
Ia pun mengimbau warga Sitaro, khususnya yang berdekatan dengan lokasi Gunung Karangetang untuk tetap meningkatkan kewaspadaan. “Saya minta warga untuk tetap waspada. Pemerintah akan tetap terus melakukan monitoring dan akan mengambil langkah-langkah, bila ada permintaan dari BKMG,” ujarnya.
Khusus bagi warga Batubulan yang masih coba-coba berusaha bertahan, diminta untuk segera dievakuasi. “Pemerintah akan menjamin seluruh kebutuhan warga yang diungsikan,” lugas Sasingen.
Pemda Sitaro juga membuka ruang yang seluas-luasnya bagi siapapun yang berkenan untuk membantu masyarakat yang terdampak bencana. "Kami terbuka menerima bantuan dari mana saja, kami akan berterima kasih kepada siapa saja yang memberikan bantuan untuk masyarakat di sini," pungkasnya.
Tak hanya Bupati, Ketua DPRD Sitaro, Djon Ponto Janis SH juga telah mengunjungi pengungsi di Kampung Batubulan. Janis sempat menyambangi korban bencana yang mengungsi di Gereja GMIST Nazareth Niambangeng, Kawahang.
Ia meminta warga tak perlu khawatir dengan harta benda mereka. "Yang terpenting nyawa bisa selamat. Sebab bisa saja ada awan panas, atau gas beracun dari gunung yang bisa membahayakan jiwa," jelasnya.
Warga dinilai perlu terus diberikan edukasi terkait penanggulangan bencana, khusunya ancaman letusan Gunung Karangetang. “Supaya mereka akan lebih mengetahui dampaknya. Yang pasti, kami bersama pemda, aparat TNI/Polri akan terus melakukan monitoring dan pendampingan bagi para korban bencana. Teristimewa dalam memenuhi setiap kebutuhan para korban bencana yang ada di pengungsian,” terang Janis.
“Kemudian kita akan membahas dan mengambil langkah-langkah lebih lanjut bersama pemerintah, demi keamanan dan keselamatan warga di kemudian hari nanti,” kuncinya.(haman palandung)













































Komentar