Peta Perekonomi Sulut Tumbuh 5,54 Persen
Manado, MS
Gubernur Yulius terus memantau dan menjaga pertumbuhan ekonomi di Sulut untuk memastikan pertumbuhan ekonomi berdampak langsung bagi masyarakat.
Perkembangan perekonomian Sulawesi Utara (Sulut) di awal hingga pertengahan 2026 terus membaik.
Hal tersebut sudah tersampaikan ke Gubernur Sulut Yulius Selvanus SE untuk perekonomian Triwulan I Tahun 2026, sekaligus membawa tanda upaya kerasa pemprov stabil malah menaik di kondisi ekonomi global dan nasional.
Berkat kondisi perekonomian begitu, dipastikan tak lepas kontrol dan kepemimpinan Gubernur Yulius Selvanus bersama Wakil Gubernur Victor Mailangkay dalam menjaga stabilitas fiskal, mendorong investasi, serta memperkuat sektor-sektor produktif daerah.
Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut dari data yang diberikan, ekonomi Sulut tumbuh sebesar 5,54 persen secara tahunan (year on year/y-on-y).
"Bisa dikata, ini lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,05 persen,"kata gubernur belum lama ini.
Masih seputar data BPS, dilaporkan besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulut atas dasar harga berlaku tercatat mencapai Rp51,67 triliun, sementara atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp28,05 triliun.
Capaian tersebut mempertegas posisi Sulut sebagai salah satu daerah dengan pertumbuhan ekonomi kompetitif di kawasan timur Indonesia.
Pertumbuhan ekonomi Sulut ditopang oleh hampir seluruh lapangan usaha, terutama sektor penyediaan akomodasi dan makan minum yang tumbuh paling tinggi sebesar 20,85 persen.
Lonjakan tersebut dipicu meningkatnya aktivitas pariwisata, baik wisatawan mancanegara maupun domestik, perluasan program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG), serta momentum hari besar keagamaan seperti Imlek, Nyepi, Ramadan, dan Idulfitri yang mendorong konsumsi masyarakat.
Dari sisi pengeluaran, komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah menjadi motor utama pertumbuhan dengan kenaikan sebesar 7,89 persen. Hal itu didorong percepatan realisasi APBD dan APBN, termasuk pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR) ASN serta pelaksanaan sejumlah program prioritas pemerintah.
Meski demikian, secara quarter to quarter (q-to-q), ekonomi Sulut mengalami kontraksi sebesar 8,02 persen dibanding Triwulan IV-2025. Kondisi tersebut dinilai sebagai pola musiman yang lazim terjadi pada awal tahun akibat penyesuaian aktivitas konstruksi, pertambangan, dan melambatnya realisasi belanja modal pemerintah pasca akhir tahun anggaran.
Lantas, soal kestabilan ekonomi Sulut, muncul dari kontrol terhadap inflasi terkendali.
Di awal 2026 di level posisi aman.
Dan, cenderung lebih baik jika dibandingkan dengan sejumlah provinsi lain di kawasan timur Indonesia.
Kondisi ini menunjukkan daya beli masyarakat tetap terjaga di tengah pertumbuhan ekonomi yang terus bergerak positif.
Pemprov Sulut sendiri terus dalam komitmen dalam menjaga model pertumbuhan seperti itu.
Dimana, bakal mengawal sektor-sektor berbasis pertumbuhan perekonomian, seperti penguatan sektor pariwisata, pengembangan ekonomi kreatif, dukungan terhadap ketahanan pangan, serta percepatan belanja daerah agar dampak pertumbuhan ekonomi semakin dirasakan masyarakat. (DevyKumaat)










































Komentar