GSVL, Pada Sebuah Titik

Celoteh Kex #0km


Akhir Desember 2019. Hampir jam 12.00 Wita siang. Rumah kayu besar terletak di jalan raya Malalayang persis di punggung bebukitan terlihat adem. Di bagian lain halaman dekat gerbang masuk,  sebuah rumah kecil menyerupa gasebo dipenuhi riungan tetamu.

Masing –masing dengan agenda berikut harapan di benak. Saya dengan dua orang teman saat itu diminta khusus untuk  datang. Dari arah gasebo pemandangan sebagian kota Manado dan teluk terlihat indah menawan. Ini adalah spot kediaman pribadi Walikota Manado Dr Ir GS Vicky Lumentut.

Hampir satu jam menunggu, kami disilahkan menemui sosok yang belakangan ramai dikaitkan dengan Pilkada –Sulut- itu. Agak unik siang itu, sesuai petunjuk kami diarahkan bukan di ruang biasanya GSVL menjamu tamu. Namun di bagian belakang dekat dengan lokasi hamparan kebun.

Baru belakangan diketahui sebenarnya siang itu, GSVL sedang fokus pada agenda keluarga, namun ia tetap saja berbijaksana menerima kunjungan dengan tamu terbatas. Kami duduk menunggu, tak lama kemudian dari bawah kebun terlihat suami Prof DR Julyeta Paulina Amelia Runtuwene MS itu mendatangi kami.

Bercelana jeans, kaos tangan panjang biru tua dipadu topy coboy, wajah  Walikota Dua periode ini bersimbah peluh, terik mentari siang itu sedikit ikut menoreh percah agak kemerahan di wajahnya.

Seperti biasa dengan tersenyum dan gestur tubuh ‘lembut’, ia menyapa dan  meminta dimaklumi karena situasi sehingga ia menerima kami di bagian belakang rumah yang asri dan terlihat selalu bersih itu.

Hampir satu jam lebih bercakap, pengalaman, jam terbang didukung oleh kemampuan akademis yang mumpuni, GSVL fasih dan bernas mengurai bahan serta merespon kami. Ketika pembicaraan agak ‘masuk’ ke tema politik jelang Pilkada, tetap dengan nada dan diksi yang terukur GSVL mengatakan ia percaya jika Tuhan kehendaki ia sampai, maka pasti ia akan sampai.

                               *

Prolog di atas bagian yang hendak saya tautkan dengan narasi  celotehan saya kali ini. Pas di tengah mata public maupun kalkulasi para elit tengah mengarah ke GSVL berkaitan dengan opsi PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di Manado sepekan terakhir, di mana akhirnya kita tahu bersama, Senin (25/05,2020)  ditetapkan opsi Pembatasan Orang ke Luar Masuk Manado dengan sejumlah syarat wajib.

Sebuah keputusan yang  memantik respon pro dan kontra, sebagaimana terbaca beberapa menit pasca informasi ini digelindingkan media online dan kemudian bersahutan dicuitkan warganet,  opsi tersebut  sontak menjadi viral.

Besarnya ‘turbulensi’ yang ditimbulkan bisa dimaklumi baik karena factor objektif seperti posisi sentral ibukota provinsi, tingginya kasus positif Covid banding kota/kabupaten di Sulut, total kasus yang terus mengalami lonjakan, sempat beda perspektif dengan Pemprov Sulut, maupun bias factor subjektif kontestasi Pilkada yang kemudian ‘diframing’ oleh media.

Saya tak  girah dan sok-sokan bersulih menjadi exspert untuk teknis instrumentasi protap tersebut, namun sembari menaruh hormat dan apresiasi bagi semua ‘komentator’ yang wara-wiri di medsos,  celoteh ini semadyanya dibatasi meneropong –kesekian kali- kecakapan GSVL dalam mengelola ‘bola’ sulit yang tengah bergelinding di tengah kalangan pertempuran.

GSVL sepintas  seperti tersedot di tengah pusaran yang penuh tabir.  Begitu banyak hal teknis yang terhubung dengan aspek ekonomis, hukum, sosial, politik, kemanusiaan yang diingatkan netizen sebagai yang akan mengalami dampak dan eskalasi dari pemberlakukan ‘pengaturan’ tersebut,  walau mengutip silogisme tokoh pemuda Drs Dolvie Angkow berkaitan dengan PSBB sekalipun telah ada regulasi yang mengaturnya, namun penetapan layaknya PSBB tetap bukan perkara gampang.

Di sinilah sesungguhnya momentum  leadership GSVL menemui relungnya, dengan pengalaman dan refleksi  ‘profetik’nya GSVL berdiri di titik yang tepat, ia sepintas selaras dengan apa yang diisyaratkan Rosalynn Carter, “Seorang pemimpin membawa orang lain ke tempat yang mereka inginkan. Seorang pemimpin yang hebat membawa orang lain ke tempat yang barangkali tidak mereka inginkan, namun sebenarnya mereka harus berada di sana.” –

Di tengah waktu yang kian kasip, sangat mungkin GSVL terbatas menjabarkan visi sebagai bagian konsep berpikirnya, namun ia memiliki keyakinan mampu mewujudkannya, hingga akhirnya memastikan kurva kasus positif melandai di Manado.

Sikap fighting dan visoner GSVL di hari-hari terakhir ini memberi petunjuk energy leadershipnya sebagai seorang  ‘komandan’  di tengah kalangan pertempuran.  GSVL terhindar dari cakupan kriteria pemimpin yang disebut seorang senior GMIM dalam cakapan via messenger baru-baru ini,  sebagai type pemimpin–maaf- panta putih, panako dan cuma kelas warong.  ‘’Kualitas pemimpin terlihat saat ada masalah’’ sebutnya.

Siapa saja mereka,  yang mengetahui persis teman aktivis,  saya juga tak tertarik mencari tahu yang masuk kelas warong itu, di tengah wabah yang kita gumuli baiknya ini menjadi bahan renungan dan motivasi.

Mari saling menopang dan bereaksi positif agar Manado, kota, kabupaten lain dan Sulut dapat menangani virus ini  hingga kita kembali hidup normal.(*)


Komentar