Pilkada di Sulut Cetak Sejarah, Partisipasi Pemilih Meroket


NYIUR Melambai layak menjadi lokomotif demokrasi. Gelaran pemilihan kepala daerah (Pilkada) 2020, berlangsung teduh. Bayang-bayang kerawanan tak terbukti. Bahkan, angka partisipasi pemilih masyarakat justru melampaui target.

Capaian tersebut patut diapresiasi. Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) di tengah pandemi Covid-19, terbilang sukses.

Sebelumnya, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sulut menargetkan 75 persen partisipasi pemilih untuk pilgub. Namun justru usai pesta demokrasi di bumi Nyiur Melambai partisipasi pemilih capai 79 persen.

"Ini justru di atas partisipasi yang ditargetkan secara nasional. Dan menjadi angka tertinggi di antara sembilan daerah penyelenggara pilkada provinsi," jelas Ketua KPU Sulut, Ardiles Mewoh.

Selain itu, menurutnya, Pemilihan Walikota (Pilwako) Tomohon juga terbilang luar biasa. Partisipasi masyarakat mencapai 91 persen. "Sehingga menjadi tertinggi untuk pelaksanaan pilkada kabupaten kota di Indonesia. Kemudian Boltim (Bolaang Mongondow Timur) dan Bolsel (Bolaang Mongondow Selatan) berada di peringkat kedua dan ketiga partisipasi pemilih secara nasional. Tapi juga daerah lain di Sulut yang tidak menyelenggarakan pilkada juga tinggi partisipasinya," ujar Mewoh.

Di samping partisipasi pemilih yang tinggi, KPU Sulut juga sukses karena tidak adanya sengketa dalam proses Pilkada gubernur dan wakil gubernur. Dalam pilgub Sulut tidak ada sengketa proses. "Juga tidak ada sengketa hasil di MK (Mahkamah Konstitusi). Padahal sebelumnya pilgub selalu berakhir di MK. Kita tidak ada sengketa," tutur Mewoh.

Ini baginya, menjadi tanda juga bahwa pemahaman masyarakat terkait menggunakan hak pilih semakin baik. "Secara teknis ini menunjukkan masyarakat mengerti dalam setiap tahapan pemilihan sehingga ini berjalan baik," ucapnya.(arfin tompodung)


Komentar


Sponsors

Daerah

Sponsors

Mail Hosting