Aspirasi Karangan Bunga GPS Diduga Dibuang

Ditemukan di Belakang Kantor DPRD Sulut


Manado, MS

Nada kecewa meletup dari Gerakan Perempuan Sulut (GPS). Aspirasi mereka ke kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulawesi Utara (Sulut) dalam bentuk paket karangan bunga diduga telah disingkirkan ke belakang rumah wakil rakyat tersebut. Sorotan tajam pun dilayangkan.

Paket karangan bunga yang dikirim GPS, sejak Senin (22/3) subuh tersebut, bertuliskan Dukacita Mendalam atas Matinya Rasa kemanusiaan Dewan Pimpinan Partai (DPD) I Partai Golongan Karya Sulut dan Fraksi Partai Golkar di DPRD Sulut. Aspirasi itu ditujukan ke Fraksi Golkar maupun lembaga DPRD Sulut yang telah mengambil keputusan terkait pemberhentian Wakil Ketua DPRD Sulut, James Arthur Kojongian (JAK). Sekitar pukul 12.00 paket karangan bunga itu tidak nampak lagi. Selanjutnya ditemukan di bagian belakang kantor DPRD Sulut.

Atas hal tersebut, juru bicara GPS, Pendeta Ruth Ketsia Wangkai mengatakan, dirinya atas nama GPS Lawan Kekerasan Perempuan dan Anak menyampaikan kekecewaan ketika mendengarkan kabar itu. Hal itu karena bunga papan yang mereka kirimkan sebagai tanda kekecewaan dan dukacita atas tindakan dari DPD I Partai Golkar Sulut telah disingkirkan. Mestinya ini bagi dia diberikan apresiasi karena ada aturan kebebasan berpendapat dan berekspresi oleh siapapun. Ini baginya merupakan proses demokrasi untuk menegakkan keadilan. "Kami sangat kecewa karena bunga papan itu adalah bentuk ekspresi kami (GPS, red) menyampaikan pendapat atas tindakan DPD I Partai Golkar Sulut yang mengaktifkan kembali James Arthur Kojongian sebagai ketua harian DPD I Partai Golkar. Dengan dibuangnya bunga ini, itu pelanggaran terhadap berpendapat dan berekspresi dan itu dilindungi oleh undang-undang (UU). Bunga itu kami kirim tadi subuh. Kenapa dibedakan mengirimkan bunga ucapan terima kasih tetap ada di kantor DPRD Sulut. Lalu mengapa bunga ini dibuang," ujarnya.

Bunga itu disebut sebagai bagian dari ekspresi GPS dengan cara damai dan elegan. Mereka justru tidak datang dengan demonstrasi dan anarkis. Justru ini ungkapan rasa kemanusiaan dengan mengirimkan rangkaian bunga karena sudah mati rasa kemanusiaan DPD I Partai Golkar Sulut. "Sekali lagi karangan bunga ditujukan ke dua alamat, DPD I Partai Golkar Sulut dan Fraksi Partai Golkar Sulut di DPRD Sulut. Karena bagian juga yang mendukung, ikut keputusan paripurna DPRD Sulut. Karena mereka bagian dari DPRD Sulut yang telah memutuskan memberhentikan Kojongian dari wakil ketua dan juga pemberhentian dari keanggotaannya yang disampaikan kepada partai Golkar untuk melaksanakannya sebagai mekanisme yang berlaku," tandasnya.

Disampaikannya, pengaktifan kembali JAK merupakan tindakan inkonstitusional dan melanggar sumpah dan janji serta kode etik anggota dewan. Hal itu sudah diputuskan DPRD Sulut pada sidang paripurna Februari lalu bahwa Kojongian diberhentikan sebagai Wakil Ketua DPRD. Kemudian pemberhentian selanjutnya sebagai anggota dewan diserahkan kepada mekanisme partai yang bersangkutan. "Ketika itu sudah menjadi keputusan, mestinya DPD Partai Golkar Sulut menindaklanjuti pemberhentian itu dengan menggantikan kader yang memiliki komitmen bagi penghapusan kekerasan terhadap perempuan dan anak," jelasnya.

Terpisah, Sekretaris DPRD Sulut, Glady Kawatu saat dikonfirmasi menjelaskan, karangan bunga yang ucapannya  merupakan wujud pernyataan pendapat aspirasi masyarakat dalam hal ini GPS yang disampaikan di kantor DPRD Sulut, wajib dihargai dan dihormati. Hal itu karena kantor dewan adalah rumah rakyat. "Saya yang meminta memajang di depan kantor agar pimpinan dan anggota membaca aspirasi dimaksud. Sepulang dari rumah duka saya heran karangan bunga tersebut sudah tidak ada," jelasnya.

Lanjutnya, ia kemudian meminta kepala bagian umum Sekretariat DPRD Sulut untuk menempatkan kembali di depan kantor. Sekaligus menginstruksikan agar mencari tahu siapa yang memindahkannya dan atas petunjuk siapa. "Jadi bukan atas petunjuk Sekwan tapi bersyukur sudah dikembalikan di tempat semula. Demikian klarifikasi dan terima kasih," tutupnya. (arfin tompodung)


Komentar