VARIAN DELTA MENGANCAM, SULUT WASPADA


Manado, MS

‘Badai’ Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) varian delta makin mengancam. Daerah Sulawesi Utara (Sulut) pun siaga. Gerak antisipasi masuknya virus corona B.1.617.2 ini dilakukan.

Varian delta yang pertama kali ditemukan di India ini, kian mendekat ke Sulut. Berdasarkan data yang ada, Provinsi Gorontalo sebagai daerah tetangga Sulut telah ditemukan satu kasus B.1.617.2. Apalagi dikabarkan, perpindahan varian delta ini lebih cepat dari yang aslinya.

Juru bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Provinsi Sulut, dr Steaven Dandel menegaskan, hingga kini memang belum ada ditemukan kasus varian delta Covid-19 di Sulut. Ini berdasarkan data yang ada pada mereka. "Belum ada satu pun hasil pemeriksaan genome sequencing di Sulut. Yang bilang ada varian delta di sini (Sulut, red)," ungkapnya saat dihubungi, Minggu (27/6) kemarin.

Menurutnya, upaya antisipasi masuknya varian delta ini telah dilakukan Satgas Covid-19. Baik yang ada di tingkat Provinsi Sulut maupun kabupaten kota. Hal itu dengan memperkuat surveilans genomik. Metode dan penerapan surveilans genomik disebutnya serupa dengan swab. Teknik pengambilan sampelnya menurut Dandel sama dengan yang biasa dilakukan. Hanya saja sampelnya tidak diperiksa di Sulut tapi dikirim ke Jakarta. "Karena ini diperiksa di Jakarta, hasil keluar relatif lebih lama. Rata-rata dua sampai tiga minggu," jelasnya.

Dandel mengungkapkan, pemeriksaan dugaan mutasinya tidak semua laboratorium bisa melakukannya. Pemeriksaan surveilans genomik ini bukan baru berlangsung sekarang. "Pelaksanaannya dari awal tahun 2020 sampelnya sudah rutin dikirim," ungkap Dandel.

Ditambahkannya, semua prosedur penanganan dan protokol kesehatan Covid-19 tetap berjalan seperti biasa. Pemerintah juga tengah berupaya mempercepat laju program vaksinasi di Sulut. Masyarakat diharapkannya untuk tidak lengah. Harus tetap disiplin dalam mengikuti protokol kesehatan. "Jika dilihat dari pertambahan kasus di Sulut, zona risiko masih terkendali tapi kami imbau tetap disiplin menjelaskan protokol kesehatan," kuncinya.

 

DEPROV: PEMERINTAH PERLU LEBIH CEPAT DARI DELTA

Kian menyebarnya varian delta, memantik tanggap Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulut. Pemerintah diminta untuk bergerak lebih cepat. Ini dalam rangka mengantisipasi masuknya virus corona baru tersebut.

Anggota Komisi IV DPRD Sulut, Yusra Alhabsyi menyampaikan, masyarakat sudah mengetahui kondisi dan ciri-ciri varian delta ini. Baginya, Sulut termasuk daerah yang berpotensi masuknya varian tersebut. Maka dari itu dirinya meminta agar Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sulut mengambil langkah strategis untuk melakukan pencegahan dini kepada penyebaran virus tersebut. "Kita menyadari bahwa sampai saat ini mereka (dinkes, red) sudah bekerja keras mengurangi resiko pandemi Covid-19. Tapi perlu lagi dikakukan terus untuk memberikan informasi ke masyarakat bahwa vaksin ini selain wajib, kalau pun ada resiko pasti pemerintah bertanggung jawab," ungkap politisi Partai Kebangkitan Bangsa itu

Sejauh ini baginya, masih ada keraguan dari pihak masyarakat untuk melakukan vaksin. Baginya, vaksinasi memang harus  maksimal. Walaupun mengikuti protokol  kesehatan itu sangat penting namun tidak akan maksimal bila vaksin tak digencarkan. "Kecuali pemerintah memberikan pilihan lockdown. Cuma ini pilihan yang berat. Akan berdampak pada ekonomi masyarakat," terangnya.

Maka perlu menurutnya, tidak lain dari memaksimalkan vaksinasi. Dirinya melihat belakangan ini progresnya sudah ada peningkatan. Hanya saja perlu ditambah lagi lebih cepat. Bahkan butuh 3 hingga 4 kali lipat dari progres yang telah ada sekarang. "Kekuatan pemerintah harus digerakkan maksimal. Sementara ini vaksinasi baru ada di puskesmas tapi bagaimana dengan yang kumpul-kumpul. Misalnya di gereja, di Mesjid dan lainnya. Harus ditangani lebih cepat, jangan sudah ada dan lebih banyak baru kejar-kejaran menanganinya. Masyarakat juga harus tingkatkan kesadarannya protokol kesehatan dan berbondong-bondong untuk datang vaksinasi," ucapnya.

Ia menambahkan, varian delta ini penyebarannya dikabarkan sangat cepat. Maka dari itu pemerintah diharapkan harus lebih cepat antisipasinya dari penyebaran varian delta tersebut. "Makanya pemerintah harus lebih cepat (penanganan, red) dari varian delta ini," tandasnya.

 

OLLY BAKAL KUMPUL PARA KEPALA DAERAH

Gerak antisipasi dilakukan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulut. Para kepala daerah di 15 kabupaten kota segera dihimpun. Angka penyebaran Covid-19 yang semakin cepat melonjak jadi penyebab. Utamanya dalam mewaspadai bila akan munculnya virus corona varian baru delta.

Dalam upaya pencegahan dan penanganan hal itu, Gubernur Olly Dondokambey dipastikan akan secepatnya mengumpulkan seluruh kepala daerah. "Minggu depan (pekan ini, red) Pak Gubernur akan mengumpulkan kepala daerah, tokoh-tokoh agama untuk mengantisipasi hal ini, jadi pertimbangan juga bentuk ibadahnya seperti apa, untuk beribadah itu kan boleh beribadah di rumah, dan itu nanti dibahas Senin pekan depan,” ungkap Wakil Gubernur (Wagub) Sulut, Steven Kandouw, Kamis (24/6).

“Pendekatannya lebih holistik lagi soal masalah Covid-19 ini, sudah tidak bisa parsial-parsial lagi. Meski pun demikian kondisi di masyarakat juga itu mutlak harus paralel, kalau kita mau total lock down head to head, benang merahnya dengan kesejahteraan,” katanya.

Menurut wagub, gubernur telah melakukan peninjauan langsung untuk memonitor pelaksanaan vaksinasi di berbagai daerah di Sulut. “Inilah pendekatan holistik, tidak dibeda-bedakan, antara di kota dan di desa maunya pak Gubernur semuanya harus berjalan optimal dalam pelaksanaan vaksinasi ini dan kepala daerah diperintahkan untuk lebih gencar lagi,” ujarnya.

Tambahnya, Pemprov Sulut berupaya untuk mencapai Herd immunity. Sampai sejauh ini dari jumlah vaksin yang diberikan pemerintah pusat dan untuk hasil vaksinasi yang telah dilakukan terbilang bagus. Namun kalau dilihat dari jumlah penduduk masih tetap terlihat kurang. “Agar supaya kita bisa minta penambahan vaksin, maka kita harus dapat menunjukkan pada pemerintah pusat bahwa dalam proses vaksinasi kita di Sulawesi Utara, itu dilakukan dengan cepat,” kunci wagub.

Langkah kewaspadaan pula telah diderap pemerintah kabupaten kota di Sulut. Terutama mengantisipasi terjadinya penyebaran ketika memasuki perayaan pengucapan syukur. Apalagi sebagian warga Sulut menghelat perayaan ini pada Juli 2021. Terkait hal itu, Pemerintah Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel) telah mengeluarkan himbauan. Itu dituangkan dalam Surat Edaran Bupati Minsel Franky Donny Wongkar SH (FDW) bernomor 369/BMS-Bg.Kesra/VI-2021 tentang Pengucapan Syukur Kabupaten Minsel.

Informasi dihimpun, SE diterbitkan berdasarkan hasil pembicaraan antara Pemkab dan Badan Kerja Sama Antar Umat Beragama (BKSAUB) dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Minsel. Poin penting dalam SE dimintakan agar Lurah dan Hukum tua (Kumtua) di masa Pandemi Covid-19, perayaan pengucapan syukur yang dilaksanakan, berpusat pada kegiatan ibadah di rumah masing-masing. “Pelaksanaan pengucapan syukur berpusat di rumah ibadah dan dengan tidak mengundang dan menerima tamu. Tidak menyediakan makanan dan minuman atau tidak melaksanakan kegiatan-kegiatan silahturahmi maupun pelesir melalui pertemuan fisik, seperti tradisi yang dilaksanakan sebelum-sebelumnya. Sebagai gantinya, kiranya masyarakat dapat melaksanakan silahturahmi dengan memanfaatkan kemajuan teknologi smartphone, media sosial masing-masing, dengan mengangkat simbol tagar (#, red),” ucap Bupati FDW berdasar bunyi SE, tertanggal 24 Juni 2021.

Sebelumnya juga, Bupati Minahasa Utara (Minut) telah memberikan himbauan terkait perayaan pengucapan syukur dalam kegiatan forum diskusi, yang digelar FKUB bersama Pemkab Minut di Hotel Casabaio, Sabtu (19/6). "Mengenai pengucapan syukur, saya menghimbau kita masih batasi untuk saat ini, karena kita belum mencapai Herd Community (kekebalan komunitas). Jadi, ketika kita membuka untuk sampai ke rumah-rumah bisa menjadi pemicu peningkatan kasus aktif Covid-19,” jelas bupati.

 

KEMENKES SEBUT ANAK-ANAK SANGAT RAWAN

Keberadaan Covid-19 varian delta ini juga mendapat respon Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia (RI). Masyarakat diminta waspada terhadap penularannya. Apalagi bagi anak-anak yang dinilai sangat rawan terserang varian baru itu.

Penegasan tersebut disampaikan Sesditjen dan pelaksana tugas (Plt) Direktur Jenderal (Dirjen) P2P Kemenkes RI Dr dr Maxi Rein Rondonuwu. Ia menuturkan, varian delta memiliki kecenderungan menyerang anak-anak di bawah usia 18 tahun. "Ada kecenderungan varian delta di beberapa rumah sakit menyerang pasien di bawah usia 18 dan ada juga 10 tahun sudah ada yang kena. Itu pengamatan kami dari perbedaan varian baru ini," ujar Maxi, Rabu (23/6).

Dikatakannya, gejala varian delta dan varian baru lain serta varian asli virus corona sama. Gejala umumnya adalah demam, batuk, maupun sesak nafas. "Kalau perbedaan yang kami amati sama ya, gejala-gejala klinisnya itu sama ya. Kalau soal paparan sama semua. Karena paparan itu melalui droplet aja nggak usah karena varian baru juga bisa terpapar Corona virus melalui airbone,” jelas Maxi.

Meski demikian, varian ini dari hasil studi menunjukan sifat yang gampang menular. Ia pun mencontohkan kejadian lonjakan kasus di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. "Memang karena penularannya cepat banget varian delta, jadi eksponensial," tuturnya.

Meskipun ada varian baru Covid-19, apabila masyarakat mematuhi protokol kesehatan, memakai masker, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, mengurangi mobilitas dan menjaga kebersihan maka pandemi ini dapat dikendalikan. “Kita perlu mengingatkan terus kepada masyarakat bahwa kerugiannya sangat luar biasa apabila kita jatuh sakit karena Covid-19. Selain berakibat fatal, pelayanan kesehatan baik fasilitas maupun tenaga kesehatan kita ada batasnya," pesan dr Maxi.

Selain itu, menurut data yang dihimpun Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), saat ini proporsi kasus Covid-19 anak secara nasional adalah 12,5 persen. "Data nasional saat ini proporsi kasus konfirmasi positif Covid-19 pada anak usia 0-18 tahun ini adalah 12,5 persen. Artinya 1 dari 8 kasus konfirmasi itu adalah anak," kata Ketua Umum IDAI, Dr dr Aman Bhakti Pulungan, SpA(K), FAAP, beberapa waktu lalu.

Virus corona varian delta B.1.617 yang pertama kali terdeteksi di India telah banyak terdeteksi di Indonesia. Sebelumnya per 18 Juni 2021 varian delta telah terdeteksi di 6 provinsi. Namun jumlahnya mengalami peningkatan. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tirmizi, menyebutkan varian Delta telah terdeteksi di 9 provinsi. "Di Banten, DKI, Gorontalo, Jateng, Jatim, Jabar, Kaltim, Kalteng, dan Sumsel," ungkapnya, Selasa (22/6). (tribun/kompas/detik/tim ms)


Komentar


Sponsors

Daerah

Sponsors