GMIM MEMILIH
Manado, MS
Warga Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) bergumul. Pemilihan
Pelayanan Khusus (Pilpelsus) dan Pemilihan Komisi Pelayanan Kategorial
(Kompelka) di aras jemaat, siap menghentak. Asa terwujudnya pesta demokrasi
iman yang baik, berkualitas, taat aturan serta menjunjung tinggi Kepala Gereja
yaitu Yesus Kristus, meletup.
Agenda megah warga GMIM ini akan berlangsung tanggal 15 dan 17 Oktober
2021. Pada Jumat (15/10), warga GMIM khususnya anggota sidi jemaat akan memilih
Penatua dan Diaken. Selanjutnya, pada 17 Oktober, pemilihan Komisi Pelayanan
Kategorial (Kompelka) Bapak, Ibu, Pemuda, Remaja dan Anak (BIPRA). Informasi
yang diperoleh, sebanyak 1.033 jemaat akan berkontribusi pada iven bersejarah
di lingkungan organisasi gereja terbesar di Indonesia itu.
"Sebanyak 1.033 jemaat telah siap melaksanakan pemilihan Penatua
Diaken tanggal 15 Oktober 2021 dan Kompelka BIPRA pada 17 Oktober 2021," tandas
Ketua Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) GMIM, Pdt Dr Hein Arina melalui
Sekretaris Umum (Sekum) Pdt Evert Alfonsius Tangel, STh MPdK, Selasa (12/10),
malam.
Dihubungi Media Sulut via telepon aplikasi WhatsApp, Tangel pun
menjelaskan langkah-langkah pemilihan. Dia memastikan, proses pemilihan dilakukan
sesuai dengan tahapan yang telah disampaikan kepada semua jemaat dan panitia.
Hal tersebut sesuai dengan Tata Gereja tahun 2021, keputusan dan surat
penegasan BPMS tentang pemilihan di semua aras.
Disentil total keseluruhan Pelsus yang akan terpilih, Tangel mengakui jumlahnya
akan diperoleh ketika pemilihan selesai. Sebab, data hasil pemilihan secara
pasti bisa didapat ketika BPMS menerima berita acara laporan Pilpelsus dari
setiap jemaat yang dibuat oleh panitia masing-masing. Untuk hasil pemilihan,
dia melanjutkan, tentunya sepengetahuan Badan Pekerja Majelis Jemaat (BPMJ),
diketahui Badan Pekerja Majelis Wilayah (BPMW) dan diteliti BPMS, secara khusus
oleh Bidang Pekerja GMIM dan Pelsus.
"Jumlah Pelsus terpilih akan diperoleh ketika pemilihan telah
selesai. Sebab, jumlah itu nanti akan didapatkan setelah kita (BPMS-red)
memperloleh data hasil pemilihan dari 1.033 jemaat. Sesudah itu, akan
dikeluarkan surat penetapan. Selanjutnya, ada pelantikan bagi Kompelka baru,
teristimewa peneguhan Penatua dan Diaken terpilih," paparnya.
Mendukung pesta iman ini, Tangel berharap, seluruh jemaat dapat
mendoakan, sehingga seluruh tahapan pemilihan bisa berjalan dengan baik. Begitu
juga dengan semua anggota sidi jemaat, diharapkan memenuhi undangan untuk
datang di tempat pemilihan yang sudah ditentukan BPMJ masing-masing.
"Semua panitia hendaknya bekerja sama dengan BPMJ untuk
melaksanakan pemilihan sesuai ketentuan-ketentuan yang sudah diturunkan kepada
jemaat. Terkait keadaan saat ini masih berada di situasi pandemi Covid-19, BPMS
GMIM mengimbau kepada 1.033 jemaat agar melakukan pemilihan dengan tetap
mematuhi protokol kesehatan," pesan Tangel.
Terpisah, mantan Sekretaris BPMS GMIM Pdt Dr Hendry Runtuwene
mengatakan, Pemilihan Pelsus dan
Kompelka BIPRA di jemaat adalah anugerah Tuhan yang indah bagi warga GMIM. Oleh
karena itu, semua pihak wajib menyukseskan momentum iman ini dengan penuh
syukur dan gembira. “Dalam pemilihan, jauhi cara-cara yang bertentangan dengan Firman
Tuhan. Hindarkan pertikaian dan kepentingan diri atau kelompok semata. Jalin
persaudaraan yang rukun dan damai, agar kita menjadi kesaksian yang hidup bahwa
Roh Kudus menyertai gereja ini sehingga nama Tuhan Yesus dipermuliakan,” pesan
Runtuwene, Selasa (12/10), kemarin.
Hal senada diungkapkan Anggota DPD RI Dapil Sulut Ir Stefanus BAN Liow
MAP. Dia berharap, pesta demokrasi
iman GMIM ini berlangsung dengan baik. “Baku-baku bae, hindari saling
menjelekkan, tetapi justru saling menguatkan dan mendoakan. Supaya pesta iman
pemilihan Diaken dan Penatua serta Kompelka BIPRA berlangsung dengan segala
baik,” harap mantan Ketua Komisi Pria Kaum Bapa (P/KB) Sinode GMIM itu.
Bagi SBANL, Diaken dan Penatua serta Kompelka BIPRA yang diperkenankan
Tuhan dan dipercaya jemaat, akan menjadi pemimpin untuk seluruh anggota jemaat
tanpa melihat perbedaan status sosial, etnis dan sub etnis. Apalagi, warna
warni politik. “Sebagai gereja, terpanggil untuk bersekutu, bersaksi dan
melayani,” kuncinya.
Selanjutnya, Gubernur Sulut Olly Dondokambey dan Wakil Gubernur
(Wagub) Steven Kandouw (OD-SK) berharap, proses pesta demokrasi iman yang akan
bergulir serentak ini, bisa berjalan dengan baik "Selamat berpesta iman
bagi warga GMIM. Marilah anggota sidi jemaat kita memilih calon Diaken dan
Penatua pada 15 Oktober 2021 serta Kompelka BIPRA pada 17 Oktober 2021, yang
dapat menjadi teladan dalam perkataan dan perbuatan," bunyi pesan resmi
Gubernur dan Wagub yang dikeluarkan Pemprov Sulut.
"Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Aku yang memilih kamu,"
tambah OD-SK, mengutip isi Alkitab dalam injil Perjanjian Baru, Yohanes 15:16.
JUNJUNG
TINGGI YESUS KRISTUS SEBAGAI KEPALA GEREJA
Dukungan penuh diberikan bagi pelaksanaan Pemilihan Pelsus dan
Kompelka BIPRA jemaat se-GMIM. Diharapkan, pelaksanaan ini mematuhi aturan dan
ketentuan yang ada.
Demikian Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulut, Pdt Lucky
Rumopa, pada Selasa (12/10). Dia berharap kiranya pelaksanaan pemilihan Pelsus dan
Kompelka BIPRA dapat berjalan sesuai dengan mekanisme, petunjuk pelaksanaan (Juklak)
dan Tata Gereja. "Tentu pelaksanaan itu harus menjunjung tinggi atau menghormati
Kepala Gereja yaitu Yesus Kristus," tegasnya.
Bagi Rumopa, bila ada hal-hal yang belum terselesaikan, maka gereja
harus dapat ‘mensiasati’ demi kemaslatan umat. "Artinya, mensiasati dalam
hal meminimalisir konflik itu. Jangan berkembang menjadi sesuatu yang besar,
karena akan berdampak buruk buat perjalanan gereja," tegasnya.
"Jadi, teknis dan mekanisme pemilihan itu bersinergi antara badan
pekerja, panitia dan tentunya jemaat," sambungnya.
Lanjut Wakil Ketua Panitia Pemilihan Sinode GMIM, harus dibedakan
pemilihan Pelsus dengan pemilihan kepala daerah. Pelsus ini adalah
pelayan-pelayan gereja. "Jadi cara menangani ini harus secara gerejawi.
Kita tidak boleh mau menyelesaikan problem permasalahan bila ada kemelut, kita
selesaikan secara koboi. Tidak bisa. Harus ada dialog, harus ada saling
mengerti," terangnya.
Menurut dia, gereja memegang prinsip Kristus. Dimana, satu jiwa (satu
pemilih) berharga di mata Tuhan. Oleh sebab itu, sangat diharapkan seluruh
komponen pelayanan ada pengertian. Saling menerima, saling mendukung dan saling
menunjang. "Apabila ada riak-riak
kecil di dalam jemaat, itu harus ditangani oleh jemaat itu sendiri. Kalau ada
sesuatu yang belum terselesaikan, harus bijaksana untuk mendengar aspirasi dan
tentu dapat menyelesaikan secara gerejani," harapnya.
Kemudian, melihat sistem, juklak dan aturan gereja. Pasti proses
pemilihan Pelsus berjalan bagus. Selanjutnya, tergantung gerejanya itu sendiri,
yang di dalamnya ada badan pekerja dan panitia. Dua komponen ini harus
bekerjasama. “Kalau dua ini bertentangan bisa bahaya, kalau melanggar aturan
dan juklak yang ada. Apalagi agenda-agenda gereja sudah di sosialisasikan 6
bulan sebelum pelaksanaan. Apabila sosialisasi itu baru dilaksanakan, itu perlu
dipertimbangkan. Apabila jemaat tidak siap kita harus siap,” bebernya.
"Harapan agar pemilihan ini mencerminkan untuk mendukung
persiapan Kongres Nasional ke-6, di mana Sulut menjadi tuan rumah. Diharapkan
seluruh komponen GMIM, dapat menyukseskan dengan kedamaian dan kerukunan,"
imbuhnya.
DUKUNG DAN
DOAKAN
Pemilihan Pelsus dan Kompelka BIPRA jemaat, menjadi gumul bersama.
Semua pihak terpanggil untuk berkontribusi bagi kesuksesan agenda besar warga
GMIM itu.
Anggota DPRD Sulut Imelda Nofita Rewah, mendukung penuh kegiatan
pemilihan Pelsus yakni Penatua dan Diaken serta Kompelka BIPRA pada tanggal 15
dan 17 Oktober 2021. Sebagai warga GMIM, dia mengimbau panitia yang terlibat
langsung kiranya dapat melaksanakan pemilihan ini dengan penuh tanggung jawab. "Sehingga bisa terlaksana dengan baik.
Maka perlu didoakan sehingga semuanya boleh terlaksana dengan baik. Bagi jemaat
GMIM ini bukan hanya sekedar melakukan pemilihan pelsus. Namun, ini adalah
panggilan iman. Paling tidak kita memilih dari hati kita, artinya kalau memilih
kita berdoa agar kita memilih nanti sebagaimana yang dikehendaki Tuhan dan
bukan yang hanya dilihat dari mata
manusia," tandas Anggota Komisi I DPRD Sulut ini.
Hal itu, menurutnya, dalam pembacaan GMIM sekarang ini di kitab
Timotius, sudah dijelaskan mengenai calon diaken dan penilik gereja seperti
apa. "Paling tidak, perlu membuka hati dan mata iman kita, agar memilih
dengan baik dengan berdoa. Bukan dengan hikmat manusia melainkan dengan hikmat
Tuhan," lugas Anggota Dewan Provinsi Daerah Pemilihan (Dapil) Minahasa-Tomohon
itu.
Harapannya, pemilihan bisa berjalan baik. Pasca pemilihan pula, jemaat
tetap ada dalam suasana persekutuan sebagai satu tubuh Kristus. "Baku-baku
bae, tidak ada perseteruan dan kalau bisa tidak ada gratifikasi, biarlah ini
murni kalau siapa yang terpilih berarti itu yang dipilih oleh Tuhan," imbuhnya.
Sementara itu, Anggota Komisi I DPRD Sulut, Hendry Walukouw
menyampaikan, pemilihan Pelsus GMIM merupakan pesta rohani warga GMIM. Melalui
proses ini akan terpilih pelayan-pelayan Tuhan yang betul-betul terpanggil dan
terpilih untuk melayani di ladang Tuhan. Tentu dengan kriteria yang sudah
diatur Juklak atau petunjuk teknis (juknis).
Besar harapannya, kader-kader GMIM ini bisa terpanggil berkarya dan
melayani dengan baik sehingga berdampak pada kehidupan masyarakat. "Ketika
pelayanan sukses, maka ini juga sangat terkait atau sebuah sinergitas dan
progres dengan program-program pemerintah," ungkap Penatua Pria Kaum Bapa (P/KB)
Jemaat Eben Haezer Tatelu yang juga Sekretaris P/KB Wilayah.
Selanjutnya, Anggota Kelompok Kerja P/KB Sinode GMIM ini menjelaskan,
artinya ketika masyarakat sehat secara rohani, maka akan sinkron dengan
program-program pemerintah. "Karena gereja adalah mitra kerja dengan
pemerintah untuk membangun secara iman, mental dan spritual. Ketika ini sukses
berarti pemerintah juga sukses," ungkapnya.
Wakil Rakyat Dapil Minahasa Utara dan Kota Bitung ini berharap,
pemilihan Pelsus kali ini, banyak bapak-bapak bisa terpilih. Hal itu karena
melihat yang lalu paling banyak Pelsus adalah ibu-ibu. "Nah sekarang,
mudah-mudahan untuk kaum bapak bisa, minimal sama (Jumlahnya, red) terpanggil
untuk melayani. Baik penatua maupun diaken," kunci dia.
PATUHI
PROKES, POLISI AKAN DITERJUNKAN
Pemilihan Pelsus dan Kompelka jemaat tahun 2021 punya tantangan berat.
Itu karena pesta iman warga GMIM, berlangsung di era pandemi Covid-19. Oleh
sebab itu, warning agar pelaksanaannya mematuhi Prokes Covid-19, dikumandangkan.
Imbauan itu datang dari Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Corona Virus Desease
2019 Provinsi Sulut. Pihak Satgas mengingatkan agar pelaksanaan dua iven ini
menerapkan Prokes. Itu karena akan digelar secara serentak. "Ini sudah
dikoordinasikan dengan Polda. Sehingga ada petugas kepolisian yang akan
mendampingi dan melihat apakah lokasi pemilihan bisa menerapkan Prokes," terang
Juru Bicara (Jubir) Bidang Epidemiologi, dr Steaven Dandel, Selasa (12/10).
Selanjutnya, Satgas juga meminta badan pekerja khususnya panitia
pemilihan supaya memperhatikan Prokes. Hal itu bertujuan agar pelaksanaan
pemilihan Pelsus dan Kompelka BIPRA, tidak memicu klaster baru. "Ya, memang
seperti itu. Panitia pemilihan juga akan menetapkan protokol kesehatan
Covid-19," lugas Dr Jemmy Kumendong, Jubir Satgas Penanganan Covid-19
Bidang Kebijakan.(hendra mokorowu/sonny
dinar/arfin tompodung)















































Komentar