INDONESIA KEMBALI SIAGA


Jakarta, MS

Masyarakat Tanah Air diwarning. Tren Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) meningkat. Bersamaan dengan itu, fakta lonjakan kasus virus Corona di Eropa dan Amerika. Potensi gelombang ketiga Covid-19 sasar Indonesia.

Potensi peningkatan kasus Covid-19 jelang akhir tahun 2021 dan awal 2022, memang sudah diprediksi. Makanya, pemerintah gencar menggelontorkan sederet kebijakan dalam rangka mencegah lonjakan kasus positif jelang akhir tahun.

Salah satu langkah konkret pemerintah dengan menggenjot pelaksanaan vaksinasi di seluruh penjuru negeri. Dengan harapan, kekebalan kelompok yang tercipta bisa membendung eksistensi dan pergerakan virus mematikan ini.

Menyangkut tren peningkatan angka positif Covid-19 di Indonesia, diakui Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves), Luhut Binsar Pandjaitan.

"Trennya kan sudah berkali-kali saya bilang (positivity) rate-nya rata-rata di bawah satu ya. Tapi ada indikasi-indikasi kan saya sudah beri tahu minggu lalu ada beberapa kabupaten kota yang angkanya juga naik," kata Luhut di Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (15/11).

Dia pun mengingatkan tren kenaikan kasus Covid-19 di Eropa dan Amerika. Menurutnya, tren itu harus disikapi serius di Indonesia. "Kamu harus lihat Amerika dan Eropa itu sekarang angkanya naik semua. Jadi kita harus hati-hati. Saya titip sekali lagi itu jadi angka di Eropa sekarang naik di Amerika pun sekarang naik," sebut Luhut dikutip dari detikcom.

Ia kemudian menyinggung perihal penerapan kewajiban tes PCR bagi para pelaku perjalanan. Menurutnya, kebijakan itu untuk menekan angka penyebaran virus Corona di Indonesia. "Jadi kalau kita seperti PCR saya katakan dulu itu tujuannya kan ngecek dulu supaya kita ini travelling aman. Sekarang Amerika mau melakukan itu dalam negeri. Kita ramai-ramai malah batalin, ya sudah," terang Luhut.

Lanjut Luhut, pemerintah bakal mengumumkan terkait kelanjutan kebijakan PPKM di Indonesia. Namun, ia menyebut ada sejumlah daerah yang sempat masuk ke daerah level 1, kini justru naik level PPKM. "Nanti saya belum ingat datanya. Tapi yang sekarang di level (1) angkanya sudah naik juga ada. Itu yang harus kita jaga," ucap Luhut.

Sebelumnya, Juru Bicara (Jubir) Vaksinasi Covid-19 dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Siti Nadia Tarmizi mengatakan, gelombang ketiga Covid-19 pasti terjadi. Prediksi sejumlah epidemiologi, gelombang ketiga Covid-19 di Indonesia akan terjadi sejak Desember 2020 hingga Januari 2021.

 

Menurut Nadia, ada empat hal yang bisa memicu gelombang ketiga Covid-19. Pertama, pola penyebaran Covid-19 yang bersifat fluktuatif tergantung pergerakan masyarakat.

"Salah satu publikasi ilmiah mengatakan pola penyakit Covid-19 ini akan menimbulkan beberapa gelombang. Jadi dia tidak akan cukup dengan satu puncak gelombang, kemudian turun," kata Nadia dalam Dialog Vaksin Untuk Semua Umur yang disiarkan melalui YouTube FMB9ID_IKP, Kamis (21/10).

Hal kedua yang bisa menimbulkan gelombang ketiga Covid-19 adalah vaksinasi. Menurut Nadia, sejumlah negara di dunia dengan cakupan vaksinasi tinggi saja masih menghadapi gelombang ketiga Covid-19, seperti Inggris, Amerika, hingga Israel.

Penyebab ketiga ialah varian Delta yang masih mendominasi di Indonesia. Data Badan Litbangkes Kementerian Kesehaan 16 Oktober 2021, total kasus Delta di Indonesia mencapai 4.025, kasus Alpha 68, dan kasus Beta 22. "Kita tahu varian Delta ini adalah varian yang merupakan sangat ganas dan sifatnya sangat infeksius. Jadi dia akan cepat menyebar dan menunggu kapan kita lengah sehingga dia menimbulkan penyebaran yang luas di masyarakat yang berakibat pada peningkatan kasus," jelasnya.

Pemicu keempat adalah mobilitas penduduk menjelang akhir tahun 2020 hingga awal tahun 2021. Nadia mencatat, ada banyak perayaan keagamaan menjelang akhir tahun 2020 yang bisa meningkatkan mobilitas masyarakat, ditambah perayaan tahun baru 2021. "Nah potensi empat hal ini yang menyebabkan keniscayaan akan gelombang ketiga itu pasti terjadi," ujarnya.

Diakui, potensi penularan Covid-19 masih terbuka meskipun angka penularan dan jumlah kasus aktif telah menurun. Penyebaran variant of concern (VoC) seperti Alpha, Beta, Delta perlu diwaspadai masyarakat. Merujuk data Kemenkes, per 13 November, jumlah sebaran varian Alpha, Beta, dan Delta di Indonesia mencapai 4.830 kasus. Varian Delta mendominasi dengan 4.732 kasus, Alpha 76 kasus, dan Beta 22 kasus.

Dalam kurun waktu sebulan, sebaran VoC Covid-19 di Indonesia bertambah 719 kasus. Hal ini turut menjadi perhatian pemerintah dalam penanganan pandemi di Tanah Air.

Adapun jumlah sebaran VoC itu diperoleh dari hasil identifikasi dengan metode Whole Genome Sequencing (WGS) terhadap 8.578 spesimen.

Jika dipetakan berdasarkan wilayah, DKI Jakarta menjadi daerah dengan sebaran VoC Covid-19 terbanyak. Ada 1.327 kasus positif varian CoV di DKI Jakarta per Sabtu (13/11), dengan rincian varian Alpha 37 kasus, Beta 12 kasus, dan Delta 1.275 kasus.

Tarkait hal itu, pemerintah mengimbau masyarakat agar tetap waspada akan penularan Covid-19. Jubir pemerintah untuk Covid-19, dr Reisa Broto Asmoro meminta masyarakat segera vaksin lengkap serta tetap disiplin protokol kesehatan, seperti pakai masker, rajin mencuci tangan, menjaga jarak dan menjauhi kerumunan, serta selektif dalam bermobilitas.

Ia menambahkan percepatan proses vaksinasi, terutama bagi lansia, terus dilakukan pemerintah. Dalam mendukung program tersebut, dr Reisa memaparkan semua provinsi harus mengadopsi sejumlah solusi seperti perluasan sentra vaksinasi, pemanfaatan vaksin keliling, vaksinasi door to door (rumah ke rumah), dan kampanye melalui media.

Dia menegaskan sudah lebih dari 215 juta dosis disuntikkan ke lengan orang Indonesia, sehingga tidak perlu lagi ada keraguan terhadap vaksin yang ada dan tidak perlu memilih-milih merek vaksin. "Gunakan vaksin yang tersedia terlebih dulu saat ini. Pemerintah menjamin semua vaksin yang diberikan kepada masyarakat adalah vaksin yang aman, bermutu, dan berkhasiat," lugas dr Reisa.

IDI DORONG PEMERINTAH SIAPKAN OBAT HINGGA OKSIGEN

Gelombang 3 Covid-19 diwaspadai. Mencegah ‘badai’ itu datang, infrastruktur penunjang penanganan Covid-19 didesak segera disiapkan.

Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Daeng M Faqih, meminta pemerintah mengantisipasi gelombang ketiga Covid-19 dengan mempersiapkan fasilitas kesehatan secara matang. Berkaca pada gelombang kedua Covid-19, sejumlah fasilitas kesehatan di Tanah Air kolaps.

"Kita pengalaman pada gelombang ke-2 kekurangan tempat perawatan, obat dan alat serta oksigen. Ini semua baiknya dipersiapkan dan direncanakan dengan baik untuk antisipasi kalau gelombang ke-3 terjadi," katanya, dikutip dari merdeka.com, Senin (15/11).

Selain mempersiapkan dari sisi hilir, Daeng mendorong pemerintah memperkuat hulu. Misalnya, menjaga ketat pintu masuk bagi pelaku perjalanan internasional, memperketat penerapan protokol kesehatan, mempercepat vaksinasi, dan memperkuat testing dan tracing.

"Negara-negara tetangga kita kasus covidnya tinggi. Beberapa negara Eropa meningkat, berpotensi masuk ke Indonesia. Jadi harus tetap waspada," ujarnya.

KEMENKES JAMIN STOK OBAT CS AMAN

Potensi gelombang ketiga COvid-19 di Tanah Air, langsung disikapi. Selain kebijakan, pemerintah pun telah menyiapkan fasilitas pendukung penanganan Covid-19.

Hal itu diakui Jubir Vaksinasi Covid-19 dari Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi. Ia memastikan stok obat, oksigen, hingga tempat perawatan aman untuk menghadapi gelombang ketiga Covid-19. "Kalau di hilir kita sudah pastikan terkait obat, oksigen dan tempat perawatan. Aman insya Allah," katanya, Senin (15/11).

Selain mempersiapkan sisi hilir, pemerintah juga mengoptimalkan strategi hulu. Menurut Nadia, ada sejumlah stategi yang terus diperkuat mengantisipasi gelombang ketiga Covid-19.

Pertama, mempercepat vaksinasi. Kedua, tetap menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berbasis level. Ketiga, meningkatkan penggunaan aplikasi PeduliLindungi. Keempat, mempertahankan cakupan tracing dan testing. "Kelima, mengaktifan satgas prokes," sambungnya.

Sementara itu, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menjelaskan, varian-varian baru virus Corona yang menyebar saat ini merupakan ‘anak dan cucu’ varian Delta. Budi mengungkap bahwa kekebalan yang terbentuk di masyarakat lewat vaksinasi ini sudah cukup untuk melawan ‘anak dan cucu’ varian Delta ini. "Jadi yang untuk varian baru, memang varian Delta itu kan kodenya B1.617.2. Nah itu sudah punya anak. Anaknya itu depannya pake AY. Ada AY4, AY23, dan AY24. Yang terbanyak di Indonesia adalah anaknya, atau sub variannya AY23 dan AY24. Malah sudah keluar juga cucunya, jadi AY4, keluar cucuknya AY4.2, itu sekarang yang lagi banyak di Inggris disebut bagian Delta Plus," kata Budi dalam konferensi pers, Senin (15/11).

Budi menjelaskan bahwa yang ada di Indonesia saat ini adalah varian AY4, AY23, dan AY24. Sedangkan AY4.2 belum ditemukan di Indonesia. "Di Indonesia sendiri AY4 sudah ada, AY23 sudah ada, AY24 sudah ada, AY4.2 belum ada," ungkap Budi.

Dia menjelaskan bahwa semua varian ini memiliki mutasi genetik yang mirip. Oleh karena itu, pihaknya yakin bahwa kekebalan yang terbentuk di masyarakat saat ini cukup untuk melawan anak-cucu varian Delta. "Semua varian Delta, baik orang tuanya, sub variannya anaknya, atau sub-sub variannya cucunya, itu memiliki mutasi genetik yang mirip. Jadi kesimpulan kami sampai sekarang, kalau misalnya ada masuk anaknya atau cucunya Insya Allah harusnya kekebalan yang sudah terbentuk di masyarakat kita masih cukup untuk bisa menanggulangi penyebaran ini," ujarnya.

Diketahui, pemerintah kembali memperbarui data terkait kasus Corona di Indonesia. Data Satgas Penanganan Covid-19 hingga Senin (15/11), dilaporkan ada tambahan 221 kasus positif Covid-19 di Indonesia. Dengan tambahan tersebut, jumlah total kasus Covid-19 yang ditemukan sejak Maret 2020 menjadi 4.251.076 kasus. Dari jumlah tersebut, 8.522 di antaranya masih positif Corona (kasus aktif). Jumlah ini lebih sedikit sedikit 496 kasus dibanding kemarin. Dilaporkan juga, ada 706 orang di Indonesia yang sembuh dari Covid-19. Jumlah total yang telah sembuh dari Corona sebanyak 4.098.884 orang. Selain itu, dilaporkan sebanyak 11 pasien positif Corona di Tanah Air meninggal dunia. Dengan demikian, jumlah total pasien positif Covid-19 yang meninggal sebanyak 143.670 orang.(merdeka/detik/*)


Komentar


Sponsors

Daerah

Sponsors