La Lina ‘Ancam’ Ketahanan Pangan di Sulut

Sampah dan Fenomena La Nina di Pesisir Pantai Manado


Manado, MS

La Nina sedang melanda di Indonesia. Sejumlah wilayah di tanah air yang tedampak fenomena tersebut mengalami peningkatan curah hujan. Ancaman bencana alam pun mengintai wilayah-wilayah yang rawan di Sulawesi Utara (Sulut). Bahkan, ketahanan pangan terancam karena potensi kegagalan panen dan terganggunya jalur distribusi bahan makanan.

Diketahui,  La Nina merupakan fenomena alam yang terjadi karena mendinginnya Suhu Muka Laut (SML) di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur hingga melewati batas normalnya. Akibatnya, di wilayah Indonesia banyak terbentuk awan dan kondisi ini diprediksi bisa meningkatkan curah hujan sebagian besar wilayah tanah air.

Menurut Riko Londah, Mahasiswa Program Doktor Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), dalam ketahanan pangan salah satu sektor yang dinilai akan sangat terdampak akibat La Lina yakni sektor perikanan. Sebab, kata Londah, terganggunya aktifitas nelayan untuk melaut berujung pada turunnya produksi hasil laut.

Dampaknya akan mengancam ketahanan pangan karena pasokan ikan akan berkurang drastis akibat nelayan tidak bisa melaut. Jika dipaksakan melaut maka hasil tangkapannya tidak akan maksimal karena tingginya gelombang,” kata Londah.

Selain itu, Londah membeberkan masalah lain yang akan muncul akibat minimnya pasokan ikan. Ia mengatakan bahwa akan terjadi kelangkaan di pasaran sehingga hasil laut di pasaran yang cenderung mahal.

Oleh karena itu, pemerintah harus memberi perhatian lebih pada sektor tersebut,” katanya.

Berdasarkan hasil kajian (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) BMKG  terhadap kejadian La Nina tahun 2020 menunjukkan curah hujan mengalami peningkatan pada November-Januari. Di tahun 2021, BMKG telah memprakirakan bahwa sebagian wilayah Indonesia sedang memasuki periode musim hujan mulai Oktober 2021, wilayah Indonesia lainnya akan memasuki musim hujan pada November hingga Desember 2021 secara bertahap dalam waktu yang tidak bersamaan. Secara umum, hingga November 2021, diperkirakan 87,7 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim hujan. Pada akhir Desember 2021, BMKG memperkirakan 96,8 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim hujan.

Sampah dan Fenomena La Nina di Pesisir Pantai Manado

Merespons kemungkinan La Nina, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di 34 provinsi untuk mengambil langkah kesiapsiagaan menghadapi fenomena ini. Hal itu bertujuan untuk mencegah maupun menghindari dampak buruk bahaya hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor dan angin kencang, yang dipicu fenomena tersebut.

Adapun Pesisir Pantai kota Manado pada bulan Januari tahun 2020 lalu telah merasakan dampak La Nina. Banjir Rob yang terjadi di area Reklamasi menunjukkan betapa bahayanya akibat dari Fenomena alam bernama La Nina ini. Dikawasan Mantos, terjadi Abrasi dipesisir pantainya, hal ini terjadi karena kawasan ini belum memiliki sistem peredam gelombang laut. Sedangkan di daerah Mega Mall, air laut pun menyebabkan Banjir Rob yang menutupi kawasan tersebut, terutama yang terletak di pesisir pantai

Di kawasan Megamas, ada pemandangan yang lain sehari setelah peristiwa banjir Rob, yaitu sampah yang didominasi oleh sampah plastik yang tertinggal di daratan pasca banjir surut. Hal ini membuktikan betapa kotornya pantai kita oleh sampah, terlhat cukup bersih di permukaan, tetapi menyimpan timbunan sampah dibawah permukaan laut. Sampah akibat banjir Rob ibarat laut yang memuntahkan kembali matrial yang dibuang manusia, dan dikembalikan ke daratan,” ungkap Londah.

Masalah sampah pesisir merupakan masalah yang terjadi dihampir semua pesisir pantai di Indonesia bahkan di dunia. Sampah plastik adalah masalah dunia yang perlu mendapat perhatian extra karena sampah jenis ini bisa bertahan ratusan tahun tanpa bisa terurai secara alami.

Londah menuturkan bahwa untuk mengatasi masalah sampah harus melibatkan warga kota Manado dengan Pemerintah Kota. Khususnya dalam mensosialisaikan bahaya penggunaan material plastik sekali pakai di kehidupan sehari-hari.

Salah satu cara yaitu membatasi penggunaan barang-barang sekali pakai yang terbuat dari plastik, membuat bank-bank sampah plastik, dan mengumpulkan sampah plastik untuk didaur ulang. Dengan demikian kita sudah mengambil bagian dalam kampanye pengurangan sampah plastik dunia,” tandasnya.(juna kalalo)





Komentar


Sponsors

Daerah

Sponsors