SULUT SIAGA
Manado, MS
Level khawatir warga bumi Nyiur Melambai membubung. Efek cuaca ekstrem
mulai menyulut petaka. Terkini, sejumlah wilayah di Sulawesi Utara (Sulut) ‘babak
belur’ dihantam bencana.
Gumul yang dihadapi warga di beberapa tempat di wilayah Sulut ini
terjadi mulai Senin hingga Selasa (6-7/12). Terkonfirmasi, puluhan rumah rusak
karena dihantam abrasi pantai hingga banjir rob atau banjir pasang surut.
Misalnya di Desa Rusoh, Kecamatan Beo Selatan, Kabupaten Kepulauan
Talaud. Sebanyak 12 rumah warga mengalami kerusakan akibat abrasi pantai,
Selasa (7/12), kemarin.
Adapun 12 rumah warga yang terkena abrasi yaitu Keluarga Halena Pande,
Nabi Amiman, Suuda Maga, Timbangnusa Sasumbala, Pande Buka, Kubitan Sasumbala,
Kubitan Maga, Rumah Janda Norsi Kubitan, Lapari Nabi, Nabi Masone, Bawele Maga
dan Kluarga Siging Nabi. Dalam peristiwa ini tidak ada korban jiwa, namun warga
mengalami kerugian materil sebab sebagian rumah mereka mengalami kerusakan.
“Kami mengimbau warga yang terdampak abrasi agar berhati-hati dan
tetap waspada dalam melakukan aktivitas, sebab saat ini terjadi cuaca ekstrem,”
ungkap Camat Beo Selatan, Patner Andasia, saat berada di lokasi kejadian
Kejadian serupa melanda Desa Tarun, Kecamatan Melonguane. Abrasi
merobohkan talud penahan ombak di desa tersebut. "Abruknya penahan ombak
di Pantai Desa Tarun akibat diterjang ombak besar mengancam warga pesisir
pantai. Ini membutuhkan perhatian serius dari instansi terkait," tandas Esra
Papingkat, Warga Desa Tarun.
Sehari sebelumnya, rumah warga di Desa Tarohan tepatnya di rumah
keluarga Dinding Lumengkewas dihantam angin puting beliung. Kejadian tersebut
mengakibatkan rumah rusak.
Musibah pun menerjang Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel).
Sekira 12 rumah terendam banjir rob pada Senin (6/12), malam. Banjir rob menerjang
sejumlah desa di dua kecamatan.
Menurut Kabid Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)
Bolsel Sirajudin Mokoagow, di Kecamatan Posigadan tercatat 11 rumah terendam
banjir ROB. “Yang di laporkan kepada kami, sebanyak 11 rumah. Tetapi hanya
sampai di pelataran rumah, tidak sampai masuk ke dalam rumah,” aku Surajudin.
Di Kecamatan Bolaang Uki, lanjut dia, terdeteksi sebanyak 11 rumah.
Namun sama seperti di Posigadan, belum sampai ke dalam rumah. “Tetapi kita
harus tetap waspada, karena sesuai informasi dari BMKG (Badan Meteorologi,
Klimatologi dan Geofisika), banjir ROB akan terjadi mulai 6 sampai 9 Desember,”
tuturnya.
Gelombang tinggi pun terpantau terjadi di perairan Manado, pada Selasa
(7/12), sore. Bahkan, jalur jalan hingga area parkir di kawasan salah satu
pusat perbelanjaan modern di Kota Manado, terimbas gelombang tinggi. Dalam
unggahan video yang beredar di media sosial (medsos), kepanikan warga sempat
terjadi. Itu lantaran sejumlah mobil yang terparkir ikut diterjang gelombang
laut.
Untuk diketahui, peringatan dini akan potensi cuaca ekstrem yang akan
menerjang Indonesia khususnya Sulut telah disampaikan pihak BMKG. Dijelaskan
BMKG melalui press release tanggal 3 Desember 2021, meskipun Siklon Tropis
Teratai di Samudra Hindia barat daya Lampung yang terbentuk tanggal 1 Desember
2021 telah dinyatakan punah pada tanggal 2 Desember 2021 pukul 01.00 WIB, namun
cuaca ekstrem diprediksi masih akan menghantam sebagian besar wilayah Indonesia
hingga 9 Desember mendatang.
Untuk itu, BMKG mewanti-wanti pemerintah dan masyarakat untuk
meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi peningkatan curah hujan di atas
normal. "Sebagian besar wilayah Indonesia telah memasuki periode musim
hujan. Dengan indikasi aktifnya fenomena La Nina pada periode musim hujan ini,
maka kewaspadaan terhadap potensi peningkatan curah hujan di atas normal harus
lebih ditingkatkan," ungkap Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati di Jakarta,
Jumat (3/12), akhir pekan lalu.
Lanjut Dwikorita, berdasarkan hasil analisis terkini, dalam sepekan ke
depan diidentifikasi terjadi peningkatan aktivitas dinamika atmosfer yang dapat
berdampak pada peningkatan potensi cuaca ekstrem secara umum di sebagian besar
wilayah Indonesia.
Menurut Dwikorita, saat ini Siklon Tropis Nyatoh masih berada di
wilayah Samudera Pasifik Barat sebelah timur Filipina dengan intensitas yang
masih menguat hingga 24 jam kedepan dengan pergerakan sistem ke arah
utara-barat laut. Sedangkan bibit Siklon 94W yang berada di sekitar Teluk
Benggala dalam periode 24 jam ke depan masih bergerak ke arah barat laut.
"Sistem Siklon Nyatoh dan Bibit 94W ini posisinya semakin
menjauhi wilayah Indonesia, sehingga dampak terhadap kondisi cuaca di wilayah
Indonesia menjadi tidak signifikan. Meskipun begitu, dampak terhadap potensi
gelombang tinggi 2.5 - 4.0 meter (Rough Sea) masih perlu diwaspadai di beberapa
wilayah perairan," tuturnya.
Di antaranya, lanjut dia, Perairan Utara Kepulauan (Kep) Anambas,
Perairan Barat Kep Natuna, Perairan Kep Subi Serasan, Perairan Utara Kep
Sangihe, Perairan Utara Kep Talaud, Laut Maluku bagian Utara, Perairan Utara
Halmahera, Laut Halmahera, Samudera Pasifik Utara Halmahera hingga Papua.
Sedangkan, potensi gelombang tinggi mencapai 4.0 - 6.0 meter (Very Rough Sea)
di wilayah perairan Laut Natuna Utara dan Perairan Utara Natuna.
Dengan semakin menjauhnya sistem Siklon Nyatoh dan Bibit 94W dari
wilayah Indonesia, tambah Dwikorita, maka kondisi tersebut membuka peluang
terhadap peningkatan fenomena dinamika atmosfer lainnya, yaitu meningkatnya
aliran massa udara yang cukup intens dari wilayah Laut China Selatan ke arah
selatan memasuki wilayah atmosfer Indonesia. Dimana, kondisi tersebut dapat
meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan yang dapat menimbulkan kejadian
curah hujan tinggi di wilayah Indonesia.
"Waspada bencana hidrometeorologi yang kemungkinan menyertainya.
Mulai dari banjir, tanah longsor, banjir bandang, angin kencang, puting beliung
dan sebagainya," imbuhnya.
Di sisi lain, Deputi Bidang Meteorologi Guswanto menambahkan, fenomena
lain yang meningkatkan curah hujan yaitu dengan masih aktifnya fenomena
gelombang atmosfer (gelombang Kelvin, Rossby Ekuatorial, dan MJO) di wilayah
Indonesia terutama bagian tengah dan timur yang dapat turut memperkuat
peningkatan potensi cuaca ekstrem dalam periode sepekan ke depan.
MJO, gelombang Rossby Ekuatorial, dan gelombang Kelvin, kata Guswanto
adalah fenomena dinamika atmosfer yang mengindikasikan adanya potensi
pertumbuhan awan hujan dalam skala yang luas di sekitar wilayah fase aktif yang
dilewatinya.
Fenomena MJO dan gelombang Kelvin ini, lanjutnya, bergerak dari arah
Samudra Hindia ke arah Samudra Pasifik melewati wilayah Indonesia dengan siklus
30-40 hari pada MJO, sedangkan pada Kelvin skala harian. Sebaliknya, Fenomena
Gelombang Rossby bergerak dari arah Samudra Pasifik ke arah Samudra Hindia
dengan melewati wilayah Indonesia. Sama halnya seperti MJO maupun Kelvin,
ketika Gelombang Rossby aktif di wilayah Indonesia maka dapat berkontribusi
pada peningkatan pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah Indonesia."Kondisi
ini merata di seluruh wilayah Indonesia. Mulai dari Aceh, Sumatera Utara,
Sumatera Barat, Kep Riau, Bengkulu, Sumatera Selatan, Kep Bangka Belitung dan
Lampung. Lalu, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta,
Jawa Timur dan Bali," terangnya.
"Provinsi lain yang juga mengalami yaitu Nusa Tenggara Barat,
Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur,
Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah,
Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, dan Papua," tambah
Guswanto.
Bagi Guswanto, masyarakat perlu melakukan sejumlah langkah antisipasi
seperti memastikan kapasitas dan tata kelola air siap untuk menampung
peningkatan curah hujan dan memastikan saluran air/drainase tidak
tersumbat/lancar. Selain itu, melakukan penataan lingkungan dengan tidak
membuang sampah sembarangan, tidak melakukan pemotongan lereng atau penebangan
pohon dengan tidak terkontrol.
"Lakukan juga pemangkasan dahan dan ranting pohon yang rapuh, dan
menguatkan tegakan/tiang agar tidak roboh tertiup angin kencang, serta
melakukan penghijauan secara lebih masif. Jangan lupa, terus memonitor
informasi perkembangan cuaca dan Peringatan Dini Cuaca Ekstrem dari BMKG,
secara lebih rinci dan detail untuk tiap kecamatan di seluruh wilayah
Indonesia," pungkasnya.
PEMDA
KELUARKAN IMBAUAN
Potensi cuaca ekstrem yang bakal menghantam wilayah Sulut mulai
diseriusi. Mencegah jatuhnya korban, Pemerintah Daerah (Pemda) serentak
meluncurkan imbauan kewaspadaan.
Bupati Minahasa melalui Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah
(BPBD) Kabupaten Minahasa, Novry Lontaan mengatakan, cuaca ekstrem diperkirakan
masih akan terjadi beberapa waktu kedepan. Untuk itu warga diminta untuk
waspada, khususnya yang bermukim di daerah rawan bencana.
"Menyikapi kondisi cuaca ekstrim saat ini maka pemerintah
menghimbau kepada masyarakat agar kita tetap waspada. Jauhi lokasi-lokasi rawan
bencana, baik itu daerah rawan longsor, banjir serta awasi pohon-pohon besar yang
sudah rapuh dan rawan tumbang di lokasi pemukiman," tandas Lontaan.
Wilayah Minahasa memang tergolong rawan longsor dikarenakan struktur
tanah yang labil. Tak heran ada sejumlah titik yang jadi langganan longsor
apabila curah hujan terjadi berkepanjangan.
Dia memaparkan, sesuai pemetaan wilayah rawan bencana oleh pihak BPBD
Minahasa, potensi longsor tersebar di sejumlah titik di Kecamatan Tondano
Utara, Kakas, Langowan Selatan, Langowan Timur, Tombulu, Tombariri, Kombi dan
Lembean Timur. "Intinya rata-rata kecamatan yang secara struktur geografis
memiliki wilayah pegunungan masuk kategori rawan longsor," ujarnya.
Peringatan dini terhadap cuaca ekstrim juga dilontarkan pihak
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Minahasa Tenggara (Mitra). Melalui pemerintah
kecamatan hingga desa dan kelurahan, warga dimintakan mewaspadai cuaca hujan
sekarang ini yang dapat berpotensi menimbulkan dampak negatif.
“Waspada bencana hidrometeorologi yang kemungkinan menyertainya. Mulai
dari banjir, tanah longsor, banjir bandang, angin kencang, puting beliung dan
sebagainya. Dan ini harus ditindaklanjuti pihak terkait, disosialisasikan
hingga kepada masyarakat Mitra,” ujar Sekretaris Daerah David Lalandos AP MM,
Selasa (7/12).
Terpisah, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Mitra
Jhony Kolinug menerangkan pihaknya sudah menindaklanjuti hal ini kepada pihak
pemerintah kecamatan dan desa/kelurahan, untuk dijadikan perhatian penting
hingga beberapa hari ke depan.
Menurut dia, antisipasi terhadap cuaca ekstrim harus dimulai dari lingkungan
sekitar dengan menebang pepohonan yang dapat mengundang musibah, termasuk
kebersihan lingkungan, memperhatikan saluran air/drainase yang tersumbat.
“Langkah antisipatifnya antara lain dengan melakukan penataan lingkungan dengan
tidak membuang sampah sembarangan, tidak melakukan pemotongan lereng atau
penebangan pohon dengan tidak terkontrol. Lakukan juga pemangkasan dahan dan
ranting pohon yang rapuh dan menguatkan tegakan/tiang agar tidak roboh tertiup
angin kencang,” beber Kolinug didampingi Sekretaris BPBD, Olga Waas.
Terpisah, Bupati Kepulauan Kabupaten Sitaro Evangelian Sasingen SE
mengatakan, pihaknya saat ini sementara melakukan identifikasi kesiapan
logistik, seperti personil, peralatan termasuk lokasi evakuasi apabila terjadi
bencana alam yang menimbulkan adanya pengungsi.
"Untuk tempat evakuasi, ada beberapa gedung Selter yang berlokasi
di kompleks rumah dinas dan gedung balai latihan keterampilan di wilayah
Tagulandang," kata Sasingen.
Lanjut dikatakannya, sejumlah peralatan penanggulangan bencana juga
telah dipersiapkan, sekaligus melakukan pengecekan personil yang akan
dilibatkan di lapangan.
Bupati berharap adanya koordinasi dari berbagai pihak, khususnya
kepala-kepala wilayah, baik di tingkat kecamatan hingga kelurahan dan desa.
"Kita persiapkan sejak dini agar kita benar-benar siap ketika ada hal yang
tidak diinginkan," ujarnya.
Peringatan
kewaspadaan juga disampaikan Kepala BPBD Kabupaten Bolmut, Viktor Nanlessy. Ia
mengingatkan warga di kawasan pesisir pantai akan bahaya banjir akibat air laut
pasang Rob. “Curah hujannya akhir-akhir ini cukup tinggi. Untuk itu, kepada
masyarakat yang berada di wilayah pesisir pantai, diminta waspada terhadap
ROB," ujar Nanlessy.
Menurut dia,
warga di seluruh kecamatan supaya dapat melakukan antisipasi dini bila terjadi
ROB. "Meski banjir ROB tidak berbahaya, tapi penduduk diharapkan tidak
lengah dan selalu waspada, karena air pasang dapat saja menghanyutkan material
hingga ke tengah laut," kata Nanlessy.
Upaya yang
dilakukan agar warga di kawasan pesisir tidak panik. Hal itu karena biasanya
banjir ROB hanya terjadi beberapa jam saja. "Maka perlu antisipasi bila
kejadian tengah malam," pesannya.
PEMPROV
SULUT ‘FOLLOW UP’ WANTI BMKG
‘Warning’ BMKG langsung disikapi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulut. Untuk
mencegah kondisi terburuk, maka langkah sinergitas, koordinasi hingga
sosialisasi, terus dipacu.
"Informasi dari BMKG terkait perkembangan cuaca itu memang tengah
kita tindaklanjuti dan diteruskan ke pemerintah kabupaten kota," terang Kepala
BPBD Provinsi Sulut, Joi Oroh, Selasa (7/12) kepada media ini.
Untuk itu, dia meminta sinergitas bersama pemerintah kabupaten kota
agar menginformasikan ke camat, lurah, kepala lingkungan bahkan masyarakat
terkait kondisi ini. "Jadi diharapkan pemerintah kabupaten dan kota dapat
menginformasikan sampai masyarakat paling bawah," pesannya.
Artinya, menurut dia, dalam rangka meningkatkan kesiapsiagaan dari
masyarakat itu sendiri. Siaga menghadapi cuaca baik curah hujan, kemudian juga terhadap
potensi gelombang pasang. "Tentunya diharapkan masyarakat berpartisipasi
aktif, tetap wasapda siaga, bahkan kalau perlu lakukan evaluasi mandiri kalau
ada yang rumah-rumah di pinggiran sungai, tebing atau daerah pesisir pantai,"
terangnya.
"Apalagi yang ada kelompok rentan seperti anak-anak dan orang tua
ke rumah yang lebih aman. Jadi diperlukan juga partisipasi masyarakat. Untuk
kita mengurangi resiko yang terjadi," lugas mantan Kepala Dinas
Perhubungan (Dushub) Provinsi ini.(tim
ms)















































Komentar