Foto: Jenis Offshore Wind Turbine (Sumber : https://www.reasearchgate.com)
Sumber Energi Baru dan Terbarukan Dalam Perspektif Oseanologi
Oleh: Riko Londah
(Mahasiswa
Program Doktor Ilmu Kelautan UNSRAT)
Dalam
beberapa bulan belakangan ini, banyak media memberitakan krisis energi di
Eropa. Di Inggris contohnya, banyak perusahaan utilitas listrik dan gas
bangkrut dan terpaksa tutup. Antrian Panjang di SPBU untuk membeli bahan bakar
menjadi pemandangan sehari-hari. Fenomena ini menunjukan kepada kita bahwa
negara-negara dengan ekonomi yang kuat pun ternyata masih cukup rentan terhadap
isu keamanan energi.
CASE
for Southeast Asia Project mengadakan sebuah diskusi bertajuk “Energy Crisis in
UK and Europe: Lessons Learned for Indonesia’s Energy Transition”pada
kesempatan ini William Derbyshire, Direktur dari Economic Consulting Associates
(ECA) Inggris memberikan paparan terkait fakta bahwa bauran energi primer di
Inggris bergantung pada gas alam sebanyak 42%, dan sejak 2017, harga gas alam
berangsur naik hingga 2021 yang mengakibatkan harga jual listrik yang juga
naik. “Jika harga bahan bakar fosil yang tinggi adalah masalahnya, maka
jawabannya adalah mengurangi ketergantungan pada batu bara dan gas, bukan
menambah lebih banyak bahan bakar fosil,” tutur William.
Atas
kesimpulan tersebut, energi terbarukan menjadi solusi yang baik untuk
mengurangi ketergantungan pada energi fosil. Fabby Tumiwa, Direktur Eksekutif
IESR menyampaikan bahwa Indonesia perlu secara cepat mengadopsi penggunaan
energi baru dan terbarukan untuk meminimalisir resiko krisis energi akibat
bergantung kepada energi fosil. (Sumber
: https://www.dunia-energi.com)
Istilah
“laut adalah masa depan bangsa”
adalah kesadaran kita akan potensi kelautan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia
yang adalah negara kepulauan terbesar di dunia dan negara dengan garis pantai
terpanjang kedua di dunia, yang 71% dari luas negara kita adalah laut. Untuk
itu kita harus memperluas penelitian dan pengembangan teknologi ramah
lingkungan di perairan Indonesia termasuk pemanfaatan energi baru dan
terbarukan.
Ada
bebrapa teknologi yang bisa dikembangkan dalam konversi energi,yaitu teknologi
teknologi pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai dan teknologi pembangkit
listrik tenaga arus laut. Kondisi kelautan Indonesia sangat mendukung penerapan
teknologi untuk energi baru dan terbarukan tersebut karena adanya potensi Angin
dan Arus Laut di perairan Indonesia.
1. Offshore Wind Turbine
Turbin angin lepas pantai merupakan teknologi yang dapat dikembangkan di Indonesia dalam rangka pengalihan energi dari energi fosil ke energi terbarukan. Dari data Lampiran Peraturan Presiden No. 22 tahun 2017, Sulawesi Utara memiliki potensi bayu sebesar 1.214 Megawatt (Mw), artinya provinsi Sulawesi Utara punya potensi pengembangan PLTB lepas pantai yang bisa menghasilkan listrik ribuan Megawatt. (Sumber : https://www.ipa.or.id)
2. Pembangkit Listrik Tenaga Arus
Laut (PLTAL)
Perkembangan
teknologi pemanfaatan energi arus laut sebagai energi baru terbarukan makin
berkembang pesat. Prinsip yang dikembangkan pada aplikasi teknologi pemanfaatan
energi dari laut ialah melalui konversi tenaga kinetik massa air laut menjadi
tenaga listrik. Pada dasarnya, arus laut merupakan gerakan horizontal massa air
laut. Dari gerakan itu muncul energi kinetik yang dapat digunakan sebagai
tenaga penggerak rotor atau turbin pembangkit listrik.
Selain itu, arus
laut menarik untuk dikembangkan sebagai pembangkit listrik karena sifatnya yang
relatif stabil, periodik, dan dapat diprediksi, baik pola maupun karakteristiknya.
Daya yang dihasilkan lebih besar daripada daya yang dihasilkan turbin angin
karena massa jenis air laut hampir 800 kali massa jenis udara.
Pemerintah
Indonesia dan Belanda akan menjalin kerja sama membangun jembatan
Pancasila-Palmerah Tidal-Bridge di Nusa Tenggara Timur (NTT). Jembatan tersebut
membentang 800 meter yang menghubungkan Flores dan Pulau Adonara. Jembatan
tersebut akan dilengkapi dengan turbin yang akan dipasang pada bawah jembatan
dan bisa menghasilkan aliran listrik dengan memanfaatkan arus laut. Potensi
listrik arus laut di wilayah itu sebesar 300 Megawatt. (sumber : https://www.jurnalpolisi.id)

Kota Manado punya potensi Arus laut di selat antara Tanjung Pisok dan pulau Bunaken, yang berpotensi dibangunnya jembatan yang dilengkapi turbin yang menghasilkan energi listrik. Perlu riset yang lebih lanjut dalam rangka pembangunannya, namun potensi energi arus laut di kota Manado cukup menjanjikan untuk digunakan sebagai sumber energi baru dan terbarukan.
Dengan
memanfaatkan potensi energi yang tersedia di laut,maka kita tidak akan lagi
tergantung penuh pada pemanfaatan energi fosil. Pembangkit listrik lepas pantai
tidak akan menggunakan bahan bakar karena hanya memanfaatkan Arus laut dan
Angin.











































Komentar