EFEK ERUPSI KARANGETANG
*RATUSAN WARGA MASIH TERISOLIR
*ISPA MULAI MENYERANG
Siau, MS
Kisah pilu menyembul pasca erupsi Gunung Karangetang. Sebagian wilayah di Siau terdampak hebat akibat terjangan debu vulkanik. Guguran lava juga menutup akses transportasi darat. Ratusan warga masih terisolir. Ancaman penyakit meneror.
Dampak terparah salah satunya di Desa Batubulan, Kecamatan Siau Barat Utara. Akses transportasi darat yang tertutup guguran lava membuat 494 warga terisolir sepekan belakangan. Tak hanya jalur darat yang tersumbat, proses evakuasi dari jalur laut pun sulit dilakukan akibat gelombang tinggi yang terus terjadi.
"Warga korban erupsi Karangetang yang terisolir itu, belum bisa dievakuasi karena kondisi yang tidak memungkinkan, tetap sedang diupayakan supaya bisa dipindahkan," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Bob Waten, di media center, Ondong, Jumat (8/2).
Untuk menolong warga yang terisolir akibat bencana tersebut, pemerintah Sitaro melalui BPBD dan Dinas Sosial, dibantu Basarnas, Tagana, TNI dan Polri terus mengirimkan bantuan logistik untuk membantu bertahan hidup.
Jenis bantuan yang disalurkan berupa makanan dan keperluan lainnya. Sedangkan berbagai upaya lainnya juga terus dimatangkan supaya tidak membahayakan ketika akan melakukan evakuasi.
"Saat ini angin sedang kencang, dan tinggi gelombang tidak memungkinkan bagi perahu maupun kapal bersandar di dermaga, terlalu berbahaya dan bisa membahayakan nyawa kalau nekat mendekati kampung tersebut," kata Wuaten.
JUMLAH PENGUNGSI BERTAMBAH
Gempuran debu vulkanik Gunung Karangetang membuat warga di lokasi terdampak memilih harus mengungsi ke tempat yang lebih aman. Data BPBD Sitaro mencatat, hingga tanggal 8 Februari 2018, jumlah pengungsi yang tertambah mencapai 195 orang, di lokasi yang ada.
"Jumlah pengungsi sudah mencapai 195 orang dari 55 kepala keluarga dengan rincian, ada di shelter BPBD Siau, 122 jiwa, 65 laki-laki, 57 wanita, kemudian di SD GMIST Batubulan berjumlah 44 jiwa, 21 laki-laki dan 23 perempuan," kata Kepala BPBD, Bob Waten.
Selain itu ada juga warga batubulan yang mengungsi dan menumpang di kediaman keluarganya sebanyak 29 jiwa, 13 laki-laki dan 16 perempuan serta ada yang masih di Batubulan.
Namun diakui masih ada warga di lokasi yang masuk zona berbahaya yang belum mengungsi. Seperti di area Baratlaut-Utara dari kawah dua, di antaranya dusun Niambangeng, Beba dan Kampung Batubulan.
“Sebaiknya masyarakat di wilayah berbahaya mengungsi dulu ke tempat yang aman dari ancaman guguran lava atau awan panas guguran Karangetang,” himbaunya.
Begitu juga masyarakat di sekitar gunung Karangetang dianjurkan agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi potensi bahaya gangguan saluran pernapasan jika terjadi hujan abu.
“Yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak Gunung Karangetang agar meningkatkan kesiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai,” himbau Waten.
SERANGAN ISPA
Dampak buruk lainnya akibat terjangan debu vulkanik Gunung Karangetang yakni munculnya penyakit. Warga di lokasi terdampak dilaporkan mulai terkena serangan Infeksi Saluran Pernafasan Akut atau ISPA.
Dominan warga yang terkena yakni yang masih terisolir di Desa Batubulan. Ratusan pasien dikabarkan telah mendapatkan penanganan medis akibat gejala ISPA.
“Masker sudah didistribusikan bersama bantuan makanan dan kebutuhan pokok lainnya. Juga obat-obatan yang diperlukan, karena warga yang terisolir di sana (Batubulan, red) sudah banyak yang terkena gejala ISPA,” kata Waten.
Selain masker dan obat-obatan, ada juga perawat yang melayani masyarakat di Batubulan. “Ada beberapa perawat yang bertugas di Puskesmas, mereka juga terisolir dan belum bisa dievakuasi bersama warga. Jadi mereka yang membantu penanganan kesehatan di sana,” tuturnya.
Diapun meminta warga Batubulan untuk bersabar hingga cuaca segera memungkinkan untuk proses evakuasi. "Kami berharap warga yang terisolir di Batubulan tetap bersabar karena bantuan pasti datang," kata Waten.
POTENSI ERUPSI SUSULAN MASIH TINGGI
Hingga kini, aktivitas vulkanik Gunung Karangetang masih menunjukkan ancaman. Potensi terjadinya guguran lava termasuk hembusan tergolong tinggi. Demikian, Didi Wahyudi, petugas kantor pengamatan gunung Karangetang menjelaskan.
"Namun untuk kuatnya masih belum bisa diprediksi," jelasnya, Sabtu (9/2).
Dari hasil pengamatan secara visual, terlihat asap kawah bertekanan lemah berwarna putih dengan intensitas tebal dan tinggi 150 meter di atas puncak kawah. Asap kawah dua putih sedang-tebal tinggi sekitar 100 meter.
"Suara gemuruh lemah juga masih sesekali terdengar," tuturnya.
Untuk aktivitas kegempaan yang berhasil terekam, kata dia, guguran terjadi 11 kali dengan amplitudo 3-5 mm, berdurasi 55-60 detik. Sementara hembusan terjadi 10 kali dengan amplitudo 6-52 mm, berdurasi 25-65 detik, tektonik jauh 4 kali dengan amplitudo 4-50 mm, S-P 15 detik, dan berdurasi 60-70 detik. Microtremor terekam dengan amplitudo 0.25-1 mm (dominan 0.25 mm).
Berdasarkan status tersebut, mereka merekomendasikan agar masyarakat dan pengunjung (wisatawan) agar tidak melakukan pendakian, dan tidak beraktivitas di zona bahaya yaitu radius 2.5 km dari puncak kawah dua (Kawah Utara) dan Kawah Utama (selatan) serta area perluasan sektoral dari Kawah Dua ke arah Barat-Baratlaut sejauh 3 km dan ke arah Baratlaut-Utara sejauh 4 km.
PEMKAB SITARO BUTUH BANTUAN
Kondisi iklim yang terus memburuk menyulut kepanikan baik pemerintah maupun masyarakat. Bupati Sitaro, Evangelian Sasingen SE, mengharapkan bantuan untuk evakuasi warga yang masih terisolir di Batubulan.
“Apalagi kondisi saat ini makin mengkhawatirkan karena hujan mulai turun, sehingga ditakutkan ada banjir lava yang akan juga membahayakan nyawa manusia jika sampai terjadi,” tutur Bupati.
Pihaknya juga membutuhkan transportasi udara atau helikopter untuk memantau secara langsung kondisi masyarakat korban erupsi Karangetang di daerah terisolir.
"Saat ini kami memang sangat membutuhkan helikopter, karena lokasi yang terkena langsung guguran lava adalah Desa Batubulan yang benar-benar terisolir, tidak bisa dilalui lewat jalan darat sedangkan di laut gelombang hingga kini sangat tinggi," kata Bupati.
Dikatakan, kondisi guguran lava yang sudah sampai ke laut dan menyebabkan jalan darat tertutup dan tak bisa dilalui. Dari laut pun susah karena sekarang cuaca sedang tidak bersahabat dan gelombang laut yang tinggi lebih dari 1,5 meter sangat membahayakan sehingga membuat upaya evakuasi 494 orang warga terisolir susah.
Meski demikian, Bupati mengatakan, pihaknya tetap berupaya mengevakuasi warga yang terisolir. Namun memang selama beberapa hari ini tim evakuasi kesulitan mendekati Desa Batubulan, karena halangan tersebut.
"Yang hanya bisa kami lakukan saat ini adalah memberi bantuan. Sudah ada bantuan yang diberikan dari BNPB, BPBD bahkan dari Kapolda yang sudah diserahkan sejak pekan lalu dan masih cukup sampai sampai 15 hari," katanya.
Namun menurutnya, para korban membutuhkan, keperluan seperti sabun dan lainnya, serta untuk tidur yakni tikar dan matras bagi warga yang berjumlah ratusan orang. (haman)















































Komentar