TAMBANG BAKAN MAKAN KORBAN, PEMERINTAH JANGAN TUTUP MATA


Bolmong, MS

Awan kelam kembali membungkus Nyiur Melambai. Peristiwa longsor di lokasi  Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di wilayah Bakan Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), Selasa (26/2),  jadi pemicu. Puluhan penambang menjadi korban. Empat diantaranya ditemukan meninggal, 19 luka-luka dan puluhan lainnya dikabarkan masih tertimbun.

Ungkapan keprihatinan dan belasungkawa bersahut-sahutan. Tak terkecuali nada kritis. Bola panas pun menyasar pemerintah daerah maupun pemerintah provinsi. Para pengambil kebijakan itu dinilai ikut bertanggung-jawab atas kejadian yang telah merenggut nyawa warga Sulawesi Utara (Sulut) itu.

Pemerintah didorong untuk bersikap tegas sekaligus mencarikan solusi bagi nasib para penambang yang menggantungkan hidup di tambang rakyat itu. Baik berupa regulasi, teristimewa menyangkut keselamatan bagi para penambang. Mengingat, para penambang itu merupakan warga Sulut.  

“Memang bekerja di tambang rakyat tidak aman. Pemerintah mestinya tegas. Karena ini menyangkut keselamatan penambang,” lugas salah satu Anggota Komisi IV Dewan Pewakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulut, Rita Manoppo, Kamis (27/2) kemarin.

Pemerintah dinilai setengah hati dalam melakukan tindakan terhadap aktivitas PETI di wilayah Bolmong, sehingga para penambang tetap melakukan penambangan, meski dengan taruhan nyawa.  “Karena selama ini, hanya himbauan-himbauan saja yang disampaikan. Itu pun kebanyakan disampaikan oleh pemerintah desa setempat. Tidak pernah ada aksi penutupan tambang,” beber wakil rakyat daerah pemilihan (Dapil) Bolmong Raya itu.

“Tapi kalaupun ditutup (Tambang rakyat, red), nanti dikuasai lagi oleh perusahaan. Ini tentu harus dicarikan solusinya. Pemerintah harus turun tangan. Yang paling terpenting menyangkut regulasi dan jaminan keselamatan dari penambang,” timpal politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) seraya berharap korban yang diduga masih tertimbun akan dapat segera dievakuasi.

Senada diungkap Anggota DPRD Sulut lainnya, Rasky Mokodompit. “Pertama tentu kita turut berduka dengan apa yang terjadi di Bakan Bolmong. Saya berharap ini menjadi pelajaran yang berharga untuk kita semua,”  ujar legislator Totabuan itu.

“Kita berharap proses evakuasi berjalan baik dan korban-korban yang masih tertimbun dapat segera diketemukan dengan keadaan selamat,” sambung Ketua Fraksi Golkar itu.

Ia berharap kedepan akan ada langkah kongkrit dari pemerintah guna menyikapi persoalan tambang rakyat tersebut. Itu agar kejadian kelam itu tidak terulang lagi. “Pemerintah harus segera mencarikan solusi yang terbaik bagi para warga yang bekerja di tambang rakyat. Utamanya menyangkut keselamatan kerja,” tandasnya.

Suara hampir serupa ikut didendangkan Ketua Komisi IV DPRD Sulut James Karinda. Ia lebih konsern ke nasib para pekerja tambang. Politisi Demokrat itu meminta peristiwa longsor di Bakan tidak akan berdampak pada penutupan tambang.  “Ini tambang rakyat di daerah-daerah harus tetap ada. Karena kebanyakan sudah dikuasai perusahaan-perusahaan, sementara rakyat tidak dapat apa-apa,” semburnya.

Menurutnya, bila wilayah tambang dikuasai perusahaan, ekonomi daerah tidak akan berkembang. Apalagi jika menghadirkan perusahaan-perusahaan yang hanya memprioritaskan tenaga kerja dari luar Sulut.

“Waktu saya ke Bolmong, ada aspirasi dari masyarakat di sana.  Penambang di tambang rakyat disebut ada ribuan. Baik pribadi, kelompok. Satu orang bisa mempekerjakan sampai 500 pekerja. Kalau ditutup, bisa ada ribuan pengangguran nanti,” bebernya.

Penambang-penambang itu dinilai telah ikut meningkatkan perekonomian di Sulut. Malah tambang rakyat disebut telah memberi sumbangsih dalam menimimalisir pengangguran.   “Jadi ini ada ‘multi player effect’. Ketika mereka beli baju, sekolahkan anak dan sebagainya. Berbelanja di Manado atau di daerah mereka, putaran ekonomi jelas tinggi. Nantinya berdampak pada petani atau pedagang. Itu baru pekerja tambang, belum keuntungan yang punya lahan tambang. Jadi penambang rakyat ini, kontribusinya besar sekali,” ujar wakil rakyat daerah pemilihan Kota Manado itu.

Penutupan tambang dianggap hanya akan menambah penggangguran dan membuka peluang bagi perusahaan-perusahaan mengambil alih tambang.  “Jika mereka tidak bekerja tambang, apa pemerintah akan menyediakan pekerjaan lain untuk mereka?. Sementara peluang kerja saja masih sedikit. Yang harus dilakukan pemerintah yakni mencari solusi yang terbaik, terutama dapat menjamin keselamatan dari para penambang,” urainya lagi.

“Disetiap negara, pastinya ada tambang rakyat. Karena kalau tambang rakyat pasti pekerjanya masyarakat lokal dan uangnya juga mereka belanjakan di daerah. Kalau tambang milik perusahaan-perusahaan uang dibawa keluar daerah, tidak dibelanjakan di daerah. Jadi sekali lagi harus dicarikan jalan keluar yang terbaik, agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali,” timpalnya.

Ia berharap korban-korban yang ditengarai masih tertimbun longsor akan dapat secepatnya dievakuasi. “Kita juga mengapresiasi kinerja dari seluruh pihak yang membantu proses evakuasi, baik dari Basarnas, aparat TNI/Polri, pemda dan masyarakat. Kita berharap proses evakuasi dapat berjalan lancar,” kuncinya.

TIM GABUNGAN FOKUS EVAKUASI SELURUH KORBAN

Tragedi longsor yang menimpa para pekerja tambang di Desa Bakan, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolmong, terus mendapat perhatian serius berbagai kalangan. Terutama dari tim gabungan, yang terdiri dari Basarnas, TNI/Polri, BPBD Bolmong serta regu penolong lainnya.

Proses evakuasi gencar dilakukan. Hingga berita ini diturunkan, tim gabungan telah berhasil mengevakuasi 23 korban, 4 diantaranya telah meninggal dunia dan 19 lainnya, mengalami luka ringan dan berat.

Meski harus melalui medan yang cukup berat namun tim gabungan akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengeluarkan seluruh  korban yang diduga masih tertimbun longsor. "Sejak pukul 03.00, kami sudah berada disini. Langkah awal yang kami ambil memberikan penjelasan soal teknik proses evakuasi kepada tim, karena medan yang terjal dan juga struktur tanah yang labil, sehingga tim harus selalu waspada dalam mengevakuasi korban," terang Rusmadi,  Koordinator Pos SAR Kotamobagu.

Lanjut Rusmadi,  pihaknya akan menggunakan alat berat jika seluruh korban yang selamat sudah evakuasi. "Tapi itu masih akan kami koordinasikan dengan tim gabungan lainnya soal proses evakuasi selanjutnya. Intinya, kami akam berhati-hati untuk evakuasi karena masih ada korban selamat terperangkap dalam lokasi longsor," tandasnya.

Senada diungkap Kapolres Kotamobagu, AKBP Gani Fernando Siahaan SIK. Menurutnya, begitu mendapatkan informasi soal musibah yang terjadi di lokasi PETI di Desa Bakan, ia langsung menerjunkan Tim untuk membantuevakuasi korban. "Dua pleton dari sabhara Polres Kotamobagi dibantu personil dari Polsek Lolayan dan 1 pleton Brimob Inuai, serta 1 pleton dari TNI, langsung dikerahkan untuk mengevakuasi korban," kata Kapolres.

Diperkirakan masih ada sekitar puluhan orang yang tertimbun longsor dalam lokasi PETI. Dan masih  terdengar ada korban yang selamat. Untuk itu proses evakuasi masih menggunakan alat manual atau tradisional. "Rencananya besok (hari ini) baru kami akan menggunakan alat berat untuk evakuasi, namun teknisnya kami serahkan ke Basarnas," ungkapnya.

Lanjut Kapolres, bagi masyarakat yang mengetahui ada keluarganya bekerja di kawasan PETI Bakan dipersilahkan untuk menghubungi posko yang sudah didirikan. "Poskonya berada di Pos C Desa Bakan. Tim dokter dan DIVI juga kita siapkan di posko agar bisa mengidentifikasi korban yang barangkali sudah susah dikenal. Saat ini kami masih menggunakan cara tradisional untuk mengevakuasi karena dari luar lokasi longsor masih kedengaran ada korban yang selamat," tandasnya.

Sekadar diketahui, musibah yang terjadi di Desa Bakan, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolmong, sekitar pukul 22.55 Wita, Selasa (26/2), bermula saat sedikitnya 60-an pekerja tambang emas sedang melakukan aktifitasnya untuk mengambil material di dalam lubang.

Menurut salah satu saksi asal Desa Poyowa Besar, Ayung Ganggai, peristiwa itu diawali dengan suara gemuruh dan disusul dengan getaran tanah yang sangat kuat.

Mendengar itu, ia bersama rekan-rekannya yang sementara mengambil material langsung langsung lari menyelamatkan diri. Namun jalan keluar telah tertimbun material hingga menutupi jalan keluar yang hanya satu jalur.

Ia pun meyakini, dititik ambruknya material masih ada puluhan pekerja  yang tertimbun. “Mereka sudah tidak bisa keluar karena jalan akses sudah tertimbun dengan material,” ujar Ayung.

Sementara sejumlah warga pun terlihat masih menunggu kabar keluarga mereka yang diduga menjadi korban di PETI Busa Desa Bakan itu. "Kami akan menunggu apapun hasilnya. Semoga suami saya masih selamat dan bisa bernafas didalam lubang," ungkap Marlina Mokodompit warga Desa Pontodon, Kecamatan Kotamobagu Utara.

BUPATI YASTI ANGKAT SUARA, DEKAB WACANAKAN PERDA

Kejadian longsor di wilayah PETI Bakan yang memakan korban jiwa mendapat perhatian serius dari Bupati Bolaang Mongondow (Bolmong), Yasti Soepredjo Mokoagow.  Ia mengaku telah langsung menerjunkan berbagai instansi terkait, guna membantu proses evakuasi.

"Kami begitu mendengar ada kejadian itu, tim langsung bergerak cepat. Baik dari BPBD, tim kesehatan, dinsos dan instansi terkait lainnya,” ungkap Yasti.

Lanjut Bupati proses evakuasi dilakukan dengan hati-hati karena medannya begitu berat. "Kemiringannya mencapai 90 derajat, sementara struktur tanah disitu masih sangat rapuh. Masyarakat diharap bersabar  karena proses evakuasi korban harus dilakukan dengan hati-hati," terangnya.

Terkait langkah selanjutnya, Pemerintah Daerah (Pemda) akan segera berkordinasi dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov). Sebab, kata Bupati,  masalah tambang ini, bukan lagi kewenangan pemda, melainkan rovinsi. "Kami tidak berhak menutup (lokasi tambang rakyat, red). Semuanya diserahkan ke Pemprov," tandas Politisi Nasdem itu sembari menghaturkan belasungkawa kepada para keluarga korban yang meninggal.

Ditempat terpisah, Ketua DPRD Bolmong, Welty Komaling ikut menyikapi peristiwa longsor di wilayah PETI Bakan. Ia pun mengusulkan untuk dibuat peraturan daerah (Perda) untuk kawasan tambang rakyat. "Kan di Bolmong banyak lokasi PETI. Sementara itu tidak ada Perda yang mengatur. Jadi sebaiknya dibuat Perda. Ini akan kita usulkan ke Pemda dan Pemprov,” tanggapnya.

“Supaya ada regulasi atau payung hukum yang mengatur soal tambang rakyat beserta jaminan keamanan dan keselamatan penambang,” sambungnya.

Ia pun turut berbelasungkawa atas peristiwa yang merenggut korban jiwa tersebut. "Segenap anggota dan pimpinan DPRD Bolmong, turut berduka cita atas musibah ini. Semoga kedepannya tidak ada lagi korban berjatuhan di lokasi pertambangan seperti ini," tandasnya.

PEMPROV AKAN SEGERA MENGAMBIL LANGKAH

Pemerintah Provinsi Sulut menyesalkan peristiwa longsor di kawasan PETI Bakan yang sampai merenggut korban jiwa. Untuk itu, Pemprov akan segera mengambil langkah-langkah kongkrit untuk menyikapi permasalahan PETI di Sulut, termasuk di Bolmong.

Langkah pertama yakni dengan membuat moratorium perizinan tambang. “Termasuk yang PETI-PETI ini. Dalam rapat koordinasi baru-baru ini dengan beberapa bupati yang daerahnya ada lahan tambang, sudah diminta untuk melakukan identifikasi (Lokasi PETI, red). Nanti akan rapat dengan forkopimda supaya bisa ditertibkan. Tapi, belum sampai ditertibkan sudah terjadi kecelakaan,” ungkap Wakil Gubernur Sulut, Steven Kandouw, saat dikonfirmasi, Rabu (27/2) kemarin.

Lewat kejadian ini Pemprov menurutnya, akan mengambil sikap untuk secepatnya lakukan penertiban. Lewat penertiban dan pengurusan izin akan disodorkan dengan syarat-syarat yang harus dipenuhi. “Syarat-syaratnya di antara lain jaminan kesehatan dan keselamatan kerja (K3) yang baru kita peringati kemarin. Kalau ada izin, walaupun pertambangan inti rakyat, tetap akan ada jaminan keselamatannya. Di situ kan nanti ada bagaimana kedalamannya, oksigennya, langkah-langkah emergency. Kalau tidak, jadi seperti ini. Jadi perlu dilengkapi dengan infrastuktur keselamatan kerja itu,” paparnya.

Peraturan Derah (Perda) Pertambangan pula menurutnya mulai digodok. Langkah ini bukan langsung melarang penambang rakyat, melainkan sebagai upaya pengendalian. “Supaya tambang-tambang ini jadi tambang rakyat yang dibackup dengan regulasi-regulasi yang punya keselamatan dan kesehatan kerja,” tegas politisi PDIP itu.

“Orang mau cari uang kita juga tidak bisa larang. Tapi harus tertib, sesuai regulasi dan selamat. Jaminan keselamatannya ada. Kalau seperti ini sudah meninggal, biar ada emas 5 kilo apa coba? Tidak ada cerita untung, namanya korban yah korban,” sambungnya.

Ia pun mengaku sudah melaporkan hal itu kepada Gubernur Sulut, Olly Dondokambey. “Yang pasti akan dicarikan solusi. Bisa dibuat tambang rakyat tapi dibac-kup dengan regulasi-regulasi, termasuk dengan keselamatan kerja. Itu di semua wilayah tambang Sulut,” kuncinya.(endar/arfin/sonny)

 

23 Korban Longsor Tambang Bakan Yang Berhasil Dievakuasi

 

KORBAN MENINGGAL 

 

1)  IKRAM MAKAHUNDA, 20 Tahun, Desa Mataindo, Kecamatan Pinolosian Tengah, Kabupaten Bolmong Selatan.

 

2) ERWIN PAPUTUNGAN, 35 Tahun, Desa Mopusi Selatan, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolmong.

 

3) Waldi Tiwang, Desa Pangian, Kecamatan Pasi Timur, Kabupaten Bolmong.

4). Arifin Mamonto, alias Rifai, 32 tahun, asal Desa Genggulang, Kecamatan Kotamobagu Utara

 

 

Korban Luka

 

1) Muin Andriase, 47 tahun, asal Desa Solimandungan, Kecamatan Bolaang, Kabupaten Bolmong

 

2) Harson Mokoginta, 22 tahun, asal Desa Tuduaog, Kecamatan Bilalang, Kabupaten Bolmong.

 

3) Fandi Modeong, 25 tahun, asal Desa Mopait, Kecamatan Lolayan Kabupaten Bolmong.

 

4) Rusman Pobela, 32 tahun, asal Desa Pangian, Kecamatan Passi Timur, Kabupaten Bolmong.

5) Rustam Golonggom, 28 tahun, asal Desa Tuduaog, Kecamatan Bilalang, Kabupaten Bolmong.

6) Topan Potabuga, 41 tahun, asal Desa Genggulang, Kecamatan Kotamobagu Utara, Kota Kotamobagu.

7) Madinanto Singosari, 32 tahun, asal Desa Bongkudai Naton, Kecamatan Modayag Barat, Kabupaten Bolmong Timur.

8) Anas Sutyo Nugroho, 24 tahun, asal Desa Bongkudai Naton, Kecamatan Modayag Barat, Kabupaten Bolmong Timur.

9) Fian Potabuga, 40 tahun, asal Desa Genggulang Kecamatan Kotamobagu Utara, Kota Kotamobagu.

10) Sudarto Tulong, 48 tahun, asal Desa Mopusi Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolmong.

11) Kito Tulong, 22 tahun, asal Desa Mopusi, Kecamatan Lolayan Kabupaten Bolmong.

 12) Sapri Mokodompit, 30 tahun, asal Desa Pontodon, Kecamatan Kotamobagu Utara.

 

13) Eman, 30 tahun, asal Desa Tanoyan Selatan, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolmong.

 14) Langkau, 38 tahun, asal Desa Tanoyan Selatan, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolmong.

 15) Beny Mamonto, 30 tahun, asal Desa Langagon, Kecamatan Bolaang, Kabupaten Bolmong, alami luka-luka di sekujur tubuhnya.

 

16). Risko Tamopi, Desa Mopusi, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolmong.

17). Uding Dotulong, Desa Mopusi, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolmong.

 

18). Toni Paputungan, Desa Mopusi, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolmong.

 

19). Heldi Mokoagow, Kelurahan Gogagoman, Kecamatan Kotamobagu Barat, Kota Kotamobagu.

 


Komentar

Populer Hari ini



Sponsors

Daerah

Sponsors

Mail Hosting