Diduga Lecehkan Simbol Mongondow, Yasti Kecam Teater ISBIMA


Lolak, MS

Arus kritikan menerpa teatrikal bertema ‘Pingkan Matindas: Cahaya Bidadari Minahasa’. Pentas yang dilakoni Institut Seni Budaya Independen Manado (ISBIMA) di gedung eks kantor DPRD Sulawesi Utara (Sulut), Sabtu (31/10) tersebut, memantik sorotan sejumlah elemen masyarakat Bolaang Mongondow Raya (BMR). Kecaman pula datang dari Bupati Yasti Mokoagow.

Teatrikal berangkat dari novel fiksi itu menampilkan sosok yang digambarkan sebagai leluhur Mongondow yakni Raja Loloda Mokoagow. Penggambarannya dinilai sebagai bentuk pelecehan terhadap tokoh yang disakralkan oleh warga adat Mongondow

Seperti yang diutarakan oleh Bupati Bolmong, Dra Yasti Soepredjo Mokoagow.  Bupati yang juga memiliki hubungan darah dengan sosok Raja Loloda Mokoagow mengaku sangat tersinggung atas pentas seni yang disutradarai oleh Achi Breyvi Talanggai tersebut. “Raja Loloda Mokoagow sangat ‘disakralkan’. Sebagai keturunan Raja Loloda Mokoagow, mengutuk pentas seni yang disutradai oleh Achi Breyvi Talanggai,” tegas Yasti, Senin (2/11) kemarin.

Pentas teaterikal itu ditayangkan secara live streaming di Kawanua TV Manado, telah melukai hati masyarakat BMR. Hal itu karena terkesan ada unsur pelecehan. Sebab dalam teater itu, Raja Loloda Mokoagow digambarkan sebagai sosok yang ‘maniak seks’. Selain itu, Raja Loloda Mokoagow digambarkan tewas di tangan prajuritnya sendiri atas perintah Pingkan dan potongan kepalanya dipertontonkan.

Yasti mengatakan, siap akan memfasilitasi para tokoh adat, tokoh masyarakat Mongondow untuk melaporkan hal ini ke pihak yang berwajib. Menurut Yasti, apa yang diceritakan di teater itu sudah mencoreng kehormatan dan harga diri orang Bolaang Mongondow. Sebab telah menodai nilai sejarah dan terpenting harus dipahami, Raja Loloda Mokoagow adalah panutan, kehormatan, harga diri seluruh rakyat Mongondow.

“Ini sungguh sangat melukai hati rakyat BMR. Harusnya sang sutradara punya etika dalam menampilkan karya seni, punya dasar alasan dalam menulis, ini pelecehan terhadap rakyat BMR, harus ada tindakan hukum terhadap karya seni yang jelas menyinggung SARA (suku, agama, ras dan antar golonga). Jangan mengangkat harkat suku lain, kemudian menjatuhkan suku Mongondow,” tegas Yasti.

“Ini tidak boleh dibiarkan. Kami akan melaporkan masalah ini secepatnya ke pihak penegak hukum,” sambung pimpinan adat tertinggi di Kabupaten Bolmong ini dengan nada tegas.

Yasti mengaku menghargai seni. Namun tidak demikian yang dibuat para seniman untuk mendapat keuntungan. Terlebih seorang Raja Loloda Mokoagow yang bagi warga Mongondow sangat dihargai dan dihormati.

Kendati demikian, Yasti meminta agar warga BMR untuk tidak terprovokasi dan menyerahkan sepenuhnya kepada aparat hukum untuk ditindaklanjuti. Setelah menerima informasi, Yasti mengaku langsung mencari tahu, siapa sutradaranya sekaligus sumber dananya dari mana.

Ada dua dinas provinsi yang dicek, ternyata tidak tahu menahu. Bahkan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) hanya terundang di acara tersebut. Setelah ditelusuri lebih jauh, sumber dana teater seni ini berasal dari dana afirmasi kementrian kebudayaan yang diusulkan para seniman.

“Jadi dinas kebudayaan dan pariwisata itu ternyata hanya diundang juga. Dana pagelaran pentas seni itu, berasal dari dana afirmasi kementerian kebudayaan,” pungkas Yasti. (yadi mokoagow)


Komentar