PENGAMANAN DI PERBATASAN SULUT DIPERKETAT


Manado, MS

Armada pengamanan di Sulawesi Utara (Sulut) dipacu. Langkah antisipatif gencar dilakukan pasca ledakan bom meneror Gereja Katedral Makassar. Utamanya memperketat penjagaan wilayah perbatasan bumi Nyiur Melambai.

Aksi bom bunuh diri tersebut ditengarai memiliki keterkaitan erat dengan Jamaah Ansharuy Daulay (JAD). Sebelumnya juga kelompok ini disinyalir pernah melakukan tindakan serupa di Katedral Our Lady Of Mount Carmel, Pulau Jolo Filipina Selatan. Menindaklanjuti hal tersebut, Kepolisian Resort (Polres) Kabupaten Sangihe ambil kebijakan untuk memperketat daerah tersebut yang merupakan perbatasan Indonesia dengan Filipina.

Kepala Polres (Kapolres) Sangihe AKBP Tony Budhi Susetyo menegaskan, pihaknya telah memperketat daerah perbatasan Indonesia-Filipina. Hal itu karena Kabupaten Kepulauan Sangihe merupakan daerah lintas batas antar Negara Indonesia. “Kita sudah perketat jalur perbatasan, dan telah melakukan koordinasi dengan pemerintah setempat dan aparat keamanan yang ada di sini. Ini diharapkan ada dukungan dari masyarakat setempat, kalau tidak ada kerja sama dengan masyarakat itu akan susah," tegas Susetyo, ketika dihubungi, Senin (29/3).

Menurut dia, untuk jalur perlintasan biasanya ada yang dilakukan melalui jalur tradisional. Baik masyarakat Sangihe-Filipina (Sapi) maupun Filipina-Sangihe (Pisang). Ini pun menjadi perhatian serius bagi pihak keamanan.

"Memang untuk masyarakat Sangihe sendiri dalam sosial budayanya sangat erat dengan negara Filipina. Namun, hal itu bukan menjadi alasan untuk melintas baik dari Filipina ke Indonesia atau sebaliknya. Sehingga kita akan awasi dan periksa semuanya barang bawaan bagi masyarakat yang masih nekat melintasi perbatasan," ujar Susetyo.

Kapolres menjelaskan, bila mana pada saat pengawasan, ada masyarakat yang tidak mau dilakukan pemeriksaan maka pihaknya tidak tanggung-tanggung memberikan sanksi sesuai aturan yang ada.

"Sebab hal ini sudah dihimbau kepada masyarakat," tandasnya.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepulauan Sangihe melalui Sekretaris Daerah Kabupaten (Setdakab) Sangihe Harry Wolff menyatakan, Pulau Sangihe merupakan salah satu wilayah lintas batas antar Negara Indonesia-Filipina, begitu juga sebaliknya. Belajar dari kejadian di Makkasar, ini perlu mendapat perhatian khusus dalam bidang keamanannya. "Dan itu sendiri terus dilakukan oleh pak bupati dengan terus melakukan sinergitas dengan pihak keamanan yang ada. Di samping itu dalam setiap pertemuan Forkopimda (Forum Komunikasi Pimpinan Daerah), pak bupati juga selalu menyampaikan agar dapat menjaga stabilitas daerah, sehingga jika ini dapat dijaga maka secara otomatis stabilitas nasional juga dapat dijaga," kata Wolff.

Terkait kondisi teror saat ini, dirinya menghimbau agar masyarakat khususnya Sangihe dapat memberikan informasi terkait kegiatan yang mencurigakan. “Diharapkan masyarakat dapat lebih melihat aktifitas-aktifitas kedatangan dari orang tertentu dan bisa melaporkan jika ada sesuatu yang mencurigakan. Baik kepada pemerintah setempat maupun pihak keamanan," tandasnya.

Gerak proteksi serupa dilakukan Polres Kepulauan Talaud. Peningkatan keamanan dilakukan beserta dengan monitoring di sejumlah rumah Ibadah atau gereja, Minggu (28/3). Di bawah kepemimpinan Kapolres Kepulauan Talaud AKBP Alam Kusuma S Irawan SH SIK MH dan jajaran kepolisian sektor (Polsek), langsung meningkatkan kegiatan patroli, pengamanan serta monitoring. Baik secara statis dan mobile terhadap pelaksanaan peribadatan minggu di sejumlah Rumah Ibadah (Gereja) yang ada di Kabupaten Kepulauan Talaud.

Diketahui, kegiatan patroli dan  pengamanan serta monitoring yang digelar tersebut adalah merupakan kegiatan rutin. Ini dilakukan saat waktu ibadah umat Nasrani setiap minggunya. Selain itu juga antisipasi dampak peristiwa bom bunuh diri yang terjadi di salah satu Gereja Katedral di Kota Makassar. "Kegiatan pengamanan dan monitoring dilaksanakan bersama Personil Polsek dan Koramil di setiap Kecamatan sedangkan Personil Polres melakukan patroli atau mobile di beberapa Gereja," ucap Kapolres Alam Kusuma.

Dikatakan, selain pengamanan dan monitoring, personil Polri juga melakukan sosialisasi terkait  pengawasan ke pengelola Gereja atau Badan Pekerja Majelis Jemaat (BPMJ). Tujuannya agar lebih ketat dalam mengawasi barang bawaan jemaat yang hendak melaksanakan ibadah. Serta mengawasi jemaat yang tidak biasanya melaksanakan ibadah di Gereja tersebut atau pendatang. "Kami imbau warga untuk tidak melakukan ‘blow up’ di media sosial terkait kejadian bom bunuh diri yang terjadi di Makassar. Serta tidak membesarkan masalah tersebut sehingga mendiskreditkan agama tertentu, karena hal tersebut adalah kejahatan kemanusiaan bukan ajaran agama apapun," terang Kapolres.

Kapolres juga meminta warga untuk tidak perlu khawatir melakukan ibadah. Hal itu karena tentara nasional Indonesia (TNI) dan Polri akan menjamin keamanan berlangsungnya ibadah. Polres Kepulauan Talaud dan polsek-polsek jajaran bersama stakeholder terkait juga akan melaksanakan pengamanan kegiatan ibadah di sejumlah gereja di Talaud. Selain itu, Polri akan segera mengusut pelaku di balik peristiwa bom bunuh diri yang terjadi di Makassar. "Kami mengimbau gereja-gereja untuk mengaktifkan pengamanan swakarsa dan waspada terhadap orang-orang yang tidak dikenal serta segera melaporkan ke pihak kepolisian terdekat apabila ada orang yang mencurigakan akan berbuat tindak pidana," tutup Kapolres.

Kewaspadaan juga memuncak di jajaran Polres Minahasa Selatan (Minsel). Penurunan personil di seluruh gereja yang ada di 17 kecamatan dilakukan. Itu saat perayaan ibadah Jumat Agung dan perayaan Paskah. Demikian Kapolres Minsel AKBP S Norman Sitindaon SIK saat dikonfirmasi media ini. "Ada kemungkinan dari jumlah personel yang akan dilibatkan dalam pengamanan dilakukan penambahan. Sebab bantuan personel dari Polda Sulut tentunya akan dilibatkan dalam kegiatan tersebut, apalagi Minsel merupakan jalur trans Sulawesi atau jalur keluar masuk warga, baik dari Manado maupun dari arah Kotamobagu," terang Kapolres.

Sementara, Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sulut Irjen Pol Nana Sudjana melalui Kabid Humas Kombes Pol Jules Abraham Abast sudah menegaskan, pihaknya telah memberikan instruksi untuk pengamanan di Sulut. Sesaat usai kejadian bom di Makassar, Kapolda Sulut langsung memerintahkan seluruh jajaran untuk meningkatkan kewaspadaan dan melakukan berbagai upaya. “Seperti patroli secara mobile dan pengamanan sejumlah tempat ibadah,” ujar Kombes Pol Jules Abraham Abast, Minggu malam.

Seperti yang dilakukan personel Satbrimob Polda Sulut yang melaksanakan patroli di sejumlah gereja di Kota Manado dan sekitarnya. Begitu juga Polresta dan Polres jajaran, melakukan patroli serupa di wilayah hukum masing-masing. “Selain itu juga dilakukan pengetatan penjagaan mako atau kantor kepolisian, mulai dari tingkat Polda, Polresta dan Polres hingga Polsek jajaran. Ini untuk mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan,” jelas Kombes Pol Jules Abraham Abast.

Dalam kesempatan ini, Kombes Pol Jules Abraham Abast juga mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaan. “Masyarakat jangan menyebarkan foto maupun video terkait kejadian bom di Makassar melalui media sosial, karena bisa menambah rasa takut bagi masyarakat lainnya. Tujuan dari pelaku teror adalah menebar ancaman dan ketakutan bagi masyarakat dan hal inilah yang diinginkan pelaku. Sekali lagi, masyarakat jangan takut, namun tetap tenang dan waspada,” pungkas Kombes Pol Jules Abraham Abast.

 

MASYARAKAT SULUT DIMINTA TAK TERPROVOKASI

Ledakan bom di Makassar memantik reaksi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulut. Masyarakat bumi Nyiur Melambai diminta tidak terprovokasi. Seraya mendesak pihak keamanan mengoptimalkan penjagaan.

Hal tersebut disampaikan Anggota Komisi I DPRD Sulut, Hendry Walukow. Ia mengatakan, publik di Sulut jangan terpancing atau terprovokasi atas perbuatan keji itu. "Mari kita tetap bersatu untuk menjaga persatuan antar golongan agama dan suku," ungkapnya, kemarin.

Ia meminta supaya publik mempercayakan persoalan itu kepada aparat hukum. Biarkan pihak berwenang yang menangani persoalan tersebut. "Secara pribadi tentunya saya menyatakan itu perbuatan kejam dan sesat yang perlu dan urgen untuk diantisipasi. Apalagi menjelang SMSI (Sidang Majelis Sinode Istimewa) GMIM, Jumat Agung dan Paskah kita harus lebih waspada," ucapnya.

Dirinya mendorong agar baik pemerintah, pihak keamanan tentara nasional Indonesia (TNI) dan Polri untuk bisa terlibat membantu menjaga keamanan. Khususnya dalam perayaan acara-acara gerejawi tersebut. "Termasuk internal gereja Panji Yosua PKB (Pria Kaum Bapa) untuk melakuan partisipatif dalam menjaga keamanan," ungkap kelompok kerja (Pokja) politik PKB Sinode GMIM yang juga Penatua PKB jemaat GMIM Eben Heazer Tatelu itu.

Anggota Komisi I DPRD Sulut, Imelda Nofita Rewah (INR) juga mendorong aparat kepolisian maupun pemerintah di Sulut untuk waspada. Perlu meningkatkan pengamanan yang ada. Apalagi umat Kristiani akan memasuki hari raya gerejawi Jumat Agung dan Paskah. "Untuk Sulut sendiri keamanan dari pihak kepolisian harus ditingkatkan dari biasanya. Himbauan juga dari pemerintah agar supaya siskamling ditingkatkan, bukan hanya di saat ada kejadian seperti ini, mengingat umat Kristen akan memasuki Jumat Agung dan Paskah," tandas Rewah.

Selanjutnya, terkait bom di Makassar, INR menegaskan, semua agama tidak mengajarkan adanya bom bunuh diri. Tindakan seperti ini tentu saja dilakukan oleh orang-orang yang tak beragama dengan ajaran-ajaran yang menyesatkan. "Karena itu pihak yang berwajib harus mengusut tuntas kejadian ini, sampai ditemukan dalang di balik aksi bom bunuh diri. Diharapkan juga foto dan video di lokasi kejadian baiknya tidak diunggah di media sosial (medsos) agar tidak meresahkan dan menakuti masyarakat karena itu juga bagian dari tujuan terorisme," tegas anggota dewan provinsi (Deprov) dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini.

Sebagai umat percaya, INR mengajak agar semuanya bergumul dan berdoa bersama. Tujuannya agar bangsa Indonesia terlebih khusus Sulut terluputkan dari kejadian seperti ini. "Dan keadaan kota Makassar kembali normal pasca ledakan, dengan pengamanan lebih ditingkatkan. Saya sangat prihatin dengan kejadian ini. Apalagi kejadiannya di hari minggu di jam ibadah, minggu sengsara," ungkap wakil rakyat daerah pemilihan Minahasa-Tomohon tersebut.

 

OLLY: FORKOPIMDA SULUT SOLID 

Nada optimis terhadap pengamanan di wilayah bumi Nyiur Melambai meletup dari Gubernur Sulut, Olly Dondokambey. Soliditas Forkopimda dinilai jadi penyebab. Masyarakat pun diajak supaya ikut membantu.

Rasa syukur Gubernur Olly membuncah karena keberadaan Forkopimda Sulut yang sangat solid. Gerak mereka dalam memberikan kenyamanan kepada masyarakat, dipandangnya bukan hanya ketika terjadi peristiwa teror.

“Kita bersyukur karena Forkopimda kita solid. Jadi bukan hanya ada kejadian kemudian kita solid. Tetap Forkopimda rapat dalam rangka pengamanan,” ucap Olly.

Baginya sistem keamanan lingkungan sangat penting untuk ditingkatkan. Upaya tersebut sudah dilakukan sejak dulu. Giat ini menurutnya, perlu didorong lagi supaya semakin banyak yang menerapkannya. “Dari dulu kita dorong supaya kita tingkatakan terus sistem keamanan lingkungan,” ujar orang nomor satu di bumi Nyiur Melambai ini

Terpeliharanya keamanan menurutnya, bukan hanya dari aparat keamanan. Peran masyarakat sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang nyaman. Harapannya, warga Sulut juga dapat mengawasi. Terutama bagi orang yang tidak dikenal berada di wilayah masing-masing. “Saya kira tugas para media juga menginformasikan ke masyarakat agar tingkatkan sistem keamanan lingkungan. Jadi kita bisa tahu kalau ada orang yang tidak kita kenal tinggal di lingkungan kita. Itu paling penting. Peran masyarakat, bukan hanya pihak keamanan. Untuk menjaga hal-hal yang tidak kita inginkan terjadi di Sulut,” kuncinya.

Diketahui, bom yang meledak di gereja Katedral Makassar itu terjadi di tengah kekhusyukan umat nasrani merayakan Minggu Palma, menyambut hari raya Paskah. Ledakan yang diduga bom bunuh diri itu terjadi sekira pukul 10.28 WITA, di depan Gereja Hati Yesus Yang Mahakudus. Peristiwa ini sesaat setelah jemaah menyelesaikan misa. Polisi mengungkap terduga pelaku bom bunuh diri di depan gereja yang beralamat di Jalan Kajaolalido, Kecamatan Ujung Pandang, Kota Makassar, terdiri atas dua orang. (tim ms)

 

 

 


Komentar


Sponsors

Daerah

Sponsors

Mail Hosting