MABES POLRI DISERANG, INSTANSI KEPOLISIAN DIWARNING


Jakarta, MS

Nusantara kembali gempar. Pasca ledakan bom di Gereja Katedral Makassar, aksi teror senjata api kini menyasar Markas Besar (Mabes) Kepolisian Republik Indonesia (Polri). Instansi kepolisian pun didesak tingkatkan kewaspadaan.

Seorang yang disinyalir teroris diduga berupaya melakukan penyerangan ke area Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (31/3) sore. Dari rekaman video kamera pengawas (CCTV) sekitar yang merekam kejadian itu, terlihat seseorang menggunakan hijab biru dan baju hitam berjalan masuk ke area Rupatama Mabes Polri.

Terduga teroris itu sempat berkeliling di dekat gedung sambil membawa senjata. Tak lama terlihat sejumlah personel kepolisian yang keluar dari gedung dan berlari masuk usai melihat terduga teroris itu mengacungkan senjata. Terduga teroris itu kemudian kembali berjalan sambil melihat-lihat situasi gedung. Ia kemudian berjalan menjauh sembari terus mengacungkan senjata. Tak lama ia terjatuh yang diduga terkena tembakan yang tak terlihat dalam rekaman CCTV. Terduga teroris itu tak bergerak usai terkena tembakan.

Berdasarkan pantauan, kejadian itu terjadi sekitar pukul 16.45 WIB. Sejumlah warga dan wartawan di sekitar lokasi sempat mendengar beberapa kali letupan yang diduga tembakan. Sementara sejumlah awak media, tidak diperbolehkan masuk ke area tersebut di Mabes Polri. Beberapa petugas tampak berjaga ketat di sekitar pintu masuk.

Sederet personil polisi berpakaian lengkap diterjunkan usai serangan tersebut. Kapolda Metro Jaya, Irjen Fadil Imran juga nampak mendatangi lokasi kejadian. Berdasarkan sejumlah kesaksian, sebelum pelaku penerobos dilumpuhkan, sempat terdengar bunyi dua atau tiga kali tembakan.

Saksi kejadian saat Mabes Polri diserang, Ari (17), menyebut ada sedikitnya dua orang yang berupaya menerobos Mabes Polri sebelum akhirnya polisi melumpuhkan salah satu di antaranya. Ari yang berprofesi sebagai juru parkir tersebut, melihat bahwa mulanya ada seseorang lelaki yang ikut menyertai sosok berhijab yang kemudian dilumpuhkan polisi tersebut.

Ternyata pelaku adalah seorang perempuan kelahiran 1995 atau termasuk generasi milenial. Perempuan tersebut berinisial ZA, dia lahir di Jakarta pada 14 September 1995. Dia berusia 25 tahun dan tewas ditembak polisi karena dia melakukan penyerangan. Dia adalah perempuan lajang, berasal dari Ciracas, Jakarta Timur. Pendidikan terakhirnya adalah SMA/sederajat dan kini berstatus pelajar/mahasiswa.

Pasca diserang, Mabes Polri kemudian memperketat pengamanan. Enam mobil gegana terlihat mendatangi Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (31/3) sore setelah penyerangan terhadap Mabes Polri, Rabu (31/3) pukul 16.30 WIB. Tampak beberapa mobil Gegana itu berada di depan tulisan Kepolisian Negara Republik Indonesia Markas Besar.

Insiden yang menimpa Mabes Polri, membuat sejumlah kepolisian daerah (Polda) bergerak. Warning pun dilayangkan mulai dari kepolisian resort (Polres) hingga Kepolisian Sektor (Polsek). Antisipasi pengamanan dilakukan untuk menjaga wilayah Polda masing-masing. Seperti yang dilakukan Polda Metro Jaya. Dalam rangka mencegah ancaman serupa, pengamanan pun diperketat. Bukan hanya di Polda Metro Jaya, pengamanan di jajaran polres hingga polsek dimintakan supaya diperketat.

"Semua mako (markas komando) kepolisian Polda Metro Jaya kita perketat pengamanan," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus, kemarin.

Menurut Yusri, pengetatan itu dimulai dari pintu masuk Polda Metro Jaya. Anggota bersenjata api disiagakan di pintu penjagaan. Selain itu, pengamanan ‘body check’ kepada tiap orang yang hendak keluar-masuk Polda Metro Jaya bakal diperketat.

"Kita antisipasi kejadian di Mabes Polri. Kita tingkatkan pengamanan dengan menggunakan anggota bersenjata dan body check di setiap pintu. Jadi semuanya kita lakukan pemeriksaan. Ini upaya preventif," ujar Yusri.

Dalam kesempatan terpisah, Kapolres Metro Jakarta Barat Kombes Ady Wibowo mengatakan, jajaran Polres Metro Jakarta Barat telah melakukan pengawasan di daerah-daerah yang dianggap rawan untuk mengantisipasi ancaman teror.

"Kegiatan preventif penggalangan monitoring terhadap situasi berkembang. Kantong-kantong kita curigai menjadi potensi-potensi teror sudah kita lakukan monitoring. Kami sudah siapkan kegiatan-kegiatan preventive strike bersama tiga pilar, Kodim dan Pemkot untuk patroli bersama," terang Ady.

Kapolda Jawa Barat (Jabar) Irjen Ahmad Dofiri memerintahkan jajarannya untuk memperketat penjagaan markas di tingkat Polsek dan Polres. Ini merupakan buntut dari serangan perempuan terduga teroris di Mabes Polri. Hal ini disampaikan Kabidhumas Polda Jabar Kombes Pol Erdi A Chaniago. Menurut dia, semua jajaran polisi di wilayah hukum Polda Jabar harus meningkatkan kewaspadaan. "Tadi pak Kapolda udah memerintahkan untuk meningkatkan keamanan semua polres di Jawa Barat," kata Erdi singkat, kemarin.

Instruksi ini langsung ditindaklanjuti  jajaran Polrestabes Bandung. Kepala Bagian Operasi Polrestabes Bandung AKBP Asep Pujiono mengaku sudah mendapatkan perintah dari Kapolrestabes, Kombes Ulung Sampurna Jaya yang meminta setiap orang yang masuk ke markas harus melewati pemeriksaan secara ketat.

"Pengamanan ditingkatkan. Penjagaan (di pintu masuk, red) Diperketat," ucap dia.

Anggota yang berjaga harus dilengkapi senjata api beserta pelindung tubuh. Tak hanya di sekitar markas, anggota dari Brimob Polda Jabar sudah ditempatkan di daerah rawan.

 

DPR ‘TANTANG’ POLRI CS

Serangan senjata api yang meneror Mabes Polres memantik kicauan penghuni Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI). Kondisi ini dinilai menjadi sinyal darurat bagi sejumlah instansi yang menanganinya. Salah satunya pihak kepolisian.

Ketua Komisi III DPR RI Herman Hery mengatakan, peristiwa ini menjadi sinyal darurat bagi Polri, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Badan Intelijen Negara (BIN). Dia mengapresiasi aksi sigap para petugas pengamanan di Mabes Polri yang langsung menindak pelaku. Herman menyebut pelaku telah melakukan ancaman kepada petugas dengan menodong pistol.

"Sehingga petugas pengamanan telah melakukan tindakan yang terukur untuk mencegah eskalasi aksi teror tersebut. Tetapi hal ini juga menjadi sinyal darurat bagi Polri, BNPT, dan BIN, mengingat 2 aksi teror telah terjadi secara beruntun selama seminggu terakhir," ungkap Herman kepada wartawan, kemarin.

Herman menilai penangkapan yang dilakukan terhadap para terduga teroris beberapa waktu belakangan ini ternyata belum bisa efektif dalam membenam potensi aksi teror. Dia meminta Polri dan BNPT memperkuat fungsi intelijen untuk mendeteksi dini aksi-aksi terorisme.

"Saya sebagai Ketua Komisi III meminta kepada Polri dan BNPT sebagai mitra kami untuk memperkuat fungsi intelijen dalam mendeteksi kejadian serupa di kemudian hari. Kejar dan tangkap pelaku teror ini hingga akarnya," ujarnya.

Politisi PDIP ini mendorong Polri untuk memperkuat fungsi pengamanan di tengah masyarakat. Terlebih, masyarakat akan mempersiapkan Hari Raya Paskah dan bulan puasa.

Ia mengecam dan mengutuk aksi terorisme yang belakangan terjadi di Tanah Air, termasuk teror di Mabes Polri. Menurutnya, tindakan tersebut sungguh melukai rasa kemanusiaan yang tidak dibenarkan oleh seluruh umat beragama. "Oleh sebab itu, saya mendesak aparat kepolisian untuk mengusut tuntas jaringan terorisme di Indonesia," ucap Herman.

 

TINGKAT KEWASPADAAN ‘DIPECUT’

Perisitiwa serangan di Mabes Polri ditanggap pula Ketua DPR RI, Puan Maharani. Dirinya mengecam bentuk penyerangan itu. Seraya mendorong agar semuanya meningkatkan kewaspadaan.

Selain tetap siaga, ia meminta semua pihak untuk menenangkan diri. Jangan kemudian lewat kejadian itu sehingga terprovokasi.

"Kita harus meningkatkan kewaspadaan, tapi tidak boleh panik, tidak boleh takut," kata Puan dalam keterangan tertulis, Rabu malam.

Puan Maharani meminta aparat yang berwenang untuk meningkatkan keamanan, khususnya di seluruh tempat publik dan obyek vital. Dia juga mendorong kepolisian supaya menjamin keamanan masyarakat.

Sejalan dengan itu, Puan melanjutkan, Kepolisian dituntut mengusut tuntas para pelaku, dalang, hingga motif aksi teror yang terjadi baru-baru ini.

"Saya minta Polri segera melakukan upaya penegakan hukum secara profesional sesuai dengan koridor hukum, aturan, dan perundangan yang berlaku," ujar politikus PDIP ini.

Aksi penyerangan ini kemudian membuat geram Wakil Ketua Komisi III DPR RI asal Fraksi Partai Nasdem, Ahmad Sahroni. Menurutnya, rangkaian pe nyerangan oleh para teroris maupun terduga teroris yang terjadi akhir-akhir ini merupakan deklarasi perang terbuka bagi NKRI.

"Melihat peristiwa hari ini, dan beberapa kejadian ke belakang, jelas ini adalah simbol tantangan dan perang terbuka teroris untuk NKRI. Kita sudah tidak bisa menganggap remeh lagi, karena jelas, teroris ini tidak main-main dalam melakukan aksinya yang menyerang langsung ke pusatnya kepolisian, yakni Mabes Polri," ujar Sahroni.

(cnn/tempo/detik/merdeka/liputan6)


Komentar